Indeks FTSE-100 Inggris Berakhir Melemah 0,20%

   •    Selasa, 10 Oct 2017 09:02 WIB
bursa efekbursa sahamekonomi inggris
Indeks FTSE-100 Inggris Berakhir Melemah 0,20%
Ilustrasi (AFP PHOTO/BEN STANSALL)

Metrotvnews.com, London: Saham-saham Inggris berakhir lebih rendah pada Senin waktu setempat (Selasa WIB), dengan indeks acuan FTSE-100 di Bursa Efek London mengalami pelemahan sebanyak 0,20 persen atau 14,98 poin menjadi 7.507,89 poin.

Mengutip Antara, Selasa 10 Oktober 2017, Reckitt Benckiser Group, sebuah perusahaan barang konsumsi multinasional Inggris, meningkat 1,49 persen, menjadikannya sebagai peraih keuntungan terbesar dari saham-saham unggulan. Diikuti oleh saham Admiral Group dan Associated British Foods, yang  masing-masing meningkat sebesar 1,19 persen dan 1,01 persen.

Sementara itu, Anglo American, perusahaan pertambangan multinasional Inggris, mencatat kerugian paling besar dari saham-saham unggulan, dengan sahamnya jatuh 3,38 persen. Diikuti oleh Rio Tinto, kelompok pertambangan global terkemuka, turun 2,24 persen, serta EasyJet, maskapai penerbangan berbiaya rendah, berkurang 2,14 persen.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 12,60 poin atau 0,06 persen menjadi 22.761,07. Sedangkan S&P 500 turun 4,60 poin atau 0,18 persen menjadi 2.544,73. Indeks Komposit Nasdaq turun 10,45 poin atau 0,16 persen menjadi 6.579,73.

Beberapa perusahaan besar yang dijadwalkan melaporkan hasil kuartalan minggu ini antara lain BlackRock, Citigroup, Bank of America dan Wells Fargo. Pendapatan kuartal ketiga diperkirakan meningkat 4,9 persen dari tahun ke tahun, menurut data dari Thomson Reuters.

Pendapatan kuartal III diperkirakan akan meningkat 4,3 persen dari kuartal III tahun lalu. Telah terjadi peningkatan optimisme atas perombakan pajak yang diajukan oleh Presiden Donald Trump. Meski tidak ditampik kebijakan tersebut perlu dirinci lebih lanjut.

Trump dan Partai Republik atas di Kongres berharap untuk memberlakukan paket pemotongan pajak untuk perusahaan, usaha kecil dan individu sebelum Januari mendatang, dengan mengatakan bahwa pajak yang lebih rendah akan mendorong pertumbuhan ekonomi, pekerjaan dan upah.


(ABD)