Indonesia Harus Siap-Siap Hadapi Perang Dagang AS

Eko Nordiansyah    •    Senin, 09 Jul 2018 15:41 WIB
Perang dagang
Indonesia Harus Siap-Siap Hadapi Perang Dagang AS
Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofyan Wanandi (MI/GINO F HADI).

Jakarta: Pemerintah Indonesia perlu mempersiapkan diri guna menghadapi kebijakan perang dagang yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat (AS). Kebijakan tersebut dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap perdagangan internasional.

"Tidak terlalu besar menurut saya akibatnya, tapi yang paling penting menurut saya bagaimana kita mempersiapkan diri kita," kata Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi di Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin, 9 Juli 2018.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia dengan AS sejak Januari hingga Mei masih mencatatkan surplus sebesar USD3,56 miliar. Meskipun lebih kecil jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu sebesar USD4,01 miliar.

Dirinya menambahkan, perang dagang tak hanya mempengaruhi perdagangan antara kedua negara yang terlibat. Namun lebih dari itu, ada investasi antar negara yang jadi pertaruhan jika terjadi perang dagang antara AS dengan Indonesia.

"Ini menurut saya yang kita harus lihat, tapi harus kita selesaikan walaupun kita tugas utama dia kan adalah Tiongkok, Eropa, dan negara-negara yang lebih besar trade defisitnya. Cuma kita harus siap karena Amerika enggak main-main dalam persoalan ini," pungkas dia.

Sebelumnya, USTR telah melakukan evaluasi terhadap produk-produk yang menerima Generalized System of Preferences (GSP). Di antara negara-negara yang produknya ditinjau ulang adalah Indonesia, India, dan Kazakhstan.

Total ada 3.500 produk-produk yang masuk GSP yang akan dievaluasi dalam daftar produk bebas bea masuk yang dihasilkan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini dikhawatirkan bisa memicu perang dagang antara AS dengan Indonesia.




 


(SAW)