IPO, Harga Saham Xiaomi di Bawah Ekspektasi

Angga Bratadharma    •    Jumat, 06 Jul 2018 13:05 WIB
xiaomiekonomi chinationgkok
IPO, Harga Saham Xiaomi di Bawah Ekspektasi
Ilustrasi (WANG ZHAO/AFP)

Beijing: Pembuat telepon pintar Tiongkok, Xiaomi, siap untuk memperluas cakupan bisnisnya dengan menggandeng investor melalui skema Initial Public Offering (IPO) di Hong Kong. Namun, harga yang mengecewakan dan penundaan aksi korporasi di daratan Tiongkok telah memberikan tekanan dalam debut tersebut.

Xiaomi yang didirikan pada 2010 kini adalah produsen telepon pintar terbesar keempat di dunia dengan memproduksi perangkat berharga murah yang telah menarik perbandingan ke iPhone. Investor pun mulai membidik saham Xiaomi karena Xiaomi merupakan salah satu perusahaan teknologi yang besar di dunia.

Namun Xiaomi yang berbasis di Beijing kini menghadapi kenyataan pahit setelah harga saham yang ditawarkan relatif rendah dari penawaran umum perdana di Hong Kong dan penundaan rencananya untuk menjadi perusahaan pertama yang menawarkan China Depository Receipts (CDR).

Tiongkok memunculkan ide untuk CDR sebagai kendaraan menarik raksasa teknologi negara guna menawarkan bentuk ekuitas di pasar saham domestik, yang memungkinkan investor lokal untuk terlibat dalam pertumbuhan sektor ini.



Konsep ini secara umum mirip dengan penerimaan deposit Amerika, yang memungkinkan pasar AS untuk memperdagangkan aset yang mewakili saham di perusahaan asing. CDR dipandang sebagai bagian penting karena mereka menawarkan kepada perusahaan-perusahaan Tiongkok peluang untuk mengumpulkan lebih banyak dana dengan mengetuk pasar domestik.

Pada Jumat, harga saham saat IPO dihargai 17 dolar Hong Kong (USD2,17) per saham, dengan Xiaomi mengumpulkan dana segar sebesar USD4,7 miliar. Sebelumnya, harga saham telah ditetapkan di kisaran 17 dolar Hong Kong hingga 22 dolar Hong Kong untuk sekitar 2,18 miliar saham yang ditawarkan.

Analis mengutip berbagai faktor untuk harga yang relatif lemah, seperti penundaan CDR oleh Tiongkok dan sentimen negatif investor baru-baru ini terhadap ekuitas global, termasuk penurunan pasar saham baru-baru ini di Tiongkok dan Hong Kong, di tengah kekhawatiran perang perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

"Jujur, Xiaomi bukan perusahaan internet. Ini hanya sebuah perusahaan perangkat keras. Itu lah masalahnya," kata Direktur Eksekutif Kingston Financial Dickie Wong, di Hong Kong, seperti dikutip dari CNBC, Jumat, 6 Juli 2018.

Sementara itu, pendiri sekaligus CEO Xiaomi Lei Jun dalam sebuah surat terbuka yang dimasukkan dalam prospektus IPO yang dirilis bulan lalu mengatakan, Xiaomi berusaha menjadi perusahaan yang paling keren dengan memproduksi barang yang luar biasa. Jun juga menyebut Xiaomi sebagai perusahaan internet yang digerakkan oleh inovasi.

 


(ABD)