Perlu Fundamental Positif Agar CPO Kembali ke Zona Hijau

   •    Selasa, 12 Jun 2018 17:02 WIB
cpo
Perlu Fundamental Positif Agar CPO Kembali ke Zona Hijau
Ilustrasi petani sawit. (Foto: Antara/Wahdi Septiawan).

Jakarta: Crude palm oil (CPO) pada perdagangan Senin, 11 Juni 2018 ditutup di level 2.358 ringgit Malaysia, dengan histori pada hari perdagangan tersebut menyentuh harga rendah (low) di 2.345 ringgit Malaysia serta harga tinggi (high) di 2.367 ringgit Malaysia.

Ekspor CPO Malaysia Mei turun lebih dalam dari ekspektasi pelaku pasar pada kisaran minus 15,65 persen, di mana ekspektasi pelaku pasar berada pada penurunan di kisaran 9-12 persen.  Sementara produksi turun pada laju yang lebih melambat di kisaran minus 2,11 persen, dengan ekspektasi penurunan pada kisaran 4-6 persen.

"Penurunan tajam pada ekspor serta laju penurunan produksi CPO yang lebih lambat menyebabkan persediaan di akhir bulan berkurang hanya dengan menyisakan persentase yang sedikit, tercatat sebagai penurunan untuk bulan kelima berturut-turut," ujar Analis Monex Investindo Futures Arie Nurhadi, dalam hasil risetnya, Selasa, 12 Juni 2018.

Pada kenyataannya produksi CPO jatuh pada Mei saat sekarang tidak sesuai dengan musim, di mana situasi saat ini merupakan yang pertama jatuh bertepatan pada Mei, terhitung sejak Mei 1995. Alasan lebih sedikitnya hari kerja efektif serta momentum bulan puasa Ramadhan dijadikan faktor utama melambatnya produksi.

CPO berjangka Malaysia memperpanjang tren penurunan dengan ditutup 0,3 persen lebih rendah pada perdagangan Senin karena permintaan yang lemah telah membebani harga.

Harga patokan CPO kontrak untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange mencapai harga rendahnya pada 2.358 ringgit Malaysia atau setara dengan USD592 per metrik ton pada akhir perdagangan yang menyerupai harga rendah pada 7 Mei 2018 lalu.

Secara riil diprediksi sektor CPO Malaysia kemungkinan akan mencatat pendapatan yang lebih rendah pada paruh pertama di 2018 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yang menurut banyak analis disebabkan oleh produksi serta harga CPO yang lemah.

Sementara secara triwulanan, untuk kuartal pertama 2018 seluruh hasil perkebunan berada di bawah perkiraan konsensus atau ekspektasi. Di mana menurut Dewan Minyak Sawit Malaysia atau Malaysian Palm Oil Board (MPOB) harga rata-rata CPO turun 21,7 persen dari 3.152 ringgit Malaysia per metrik ton pada kuartal pertama 2017 menjadi 2.467 ringgit Malaysia per ton di kuartal pertama 2018.

Pada perdagangan Selasa, 12 Juni potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan support di kisaran harga:
- 2.340 ringgit Malaysia (support 1).
- 2.310 ringgit Malaysia (support 2).
- 2.289 ringgit Malaysia (support 3).

Sementara untuk potensi penguatan lanjutan perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran:
- 2.405 ringgit Malaysia (resistance 3).
- 2.388 ringgit Malaysia (resistance 2).
- 2.365 ringgit Malaysia (resistance 1).


(AHL)