Inggris Jamin Tidak Tinggalkan Partner Bisnis Usai Brexit

Angga Bratadharma    •    Rabu, 21 Sep 2016 10:04 WIB
brexit
Inggris Jamin Tidak Tinggalkan Partner Bisnis Usai Brexit
Perdana Menteri Inggris Theresa May (Christopher Furlong/Getty Images)

Metrotvnews.com, London: Perdana Menteri Inggris Theresa May dalam pidatonya di Majelis Umum PBB menyatakan bahwa keputusan warga Inggris untuk mengambil suara meninggalkan Uni Eropa bukan sebuah keputusan untuk keluar dari seluruh partner Inggris. Dalam hal ini, Inggris tetap berharap partner bisnis tetap menjalin kerja sama.

Mengutip Bloomberg, Rabu 21 September, pada pidatonya yang menyuarakan mengenai pembelaan hak negara untuk mengontrol perbatasan dan mengecam pengekangan Inggris, May menegaskan bahwa Inggris tidak memiliki keinginan untuk mengubah kebijakan lebih bergantung pada dalam negeri atau berjalan keluar dari seluruh partner Inggris.

Dia mengatakan hal itu lantaran warga Inggris berkeinginan untuk mengambil kembali kendali negara mereka dan menyoroti bahwa sikap politik tidak berhubungan dengan keputusan para pemilih untuk meninggalkan Uni Eropa. Artinya, keputusan warga Inggris memang berasal dari keinginan para warganya.

Komentarnya datang sebagai anggota Uni Eropa Timur yang secara tegas menyatakan bahwa Inggris tidak akan bisa mendapatkan kesepakatan yang mencakup pembatasan imigrasi dan akses pasar bebas. Adapun posisi yang ketat terhadap 11 mantan anggota blok itu telah mempersempit ruang Inggris untuk melakukan manuver.

Dalam hal ini, May menegaskan bahwa sebanyak 27 anggota lainnya di Uni Eropa akan menandatangani kesepakatan dengan Inggris. Hal ini dilakukan untuk kepentingan semua orang. Diharapkan langkah Brexit ini tidak memberi dampak signifikan terhadap ekonomi dunia, termasuk nantinya memberi efek negatif ke gerak ekonomi Indonesia.

Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris Theresa May memiliki keinginan untuk membuat Inggris menjadi pemimpin global dalam hal perdagangan usai Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa atau Brexit. Namun, mantan perunding mengatakan bahwa Inggris tengah menghadapi jalan panjang yang terbilang panas.

Dengan negara-negara yang enggan untuk terlibat secara detil dalam sebuah diskusi sampai masa depan Inggris jelas usai keluar dari Uni Eropa, dan kekurangan negosiator di London telah bersiap untuk memulai pembicaraan pada setiap perjanjian yang mungkin memakan waktu cukup panjang.

Pemerintah Inggris menyatakan bahwa Inggris bisa melakukan hal-hal yang mendasar, namun Inggris tidak bisa secara formal menandatangani perjanjian kerja sama terkait perdagangan usai Brexit dan Presiden Komisi Eropa Jean Claude Juncker mengatakan anggota Uni Eropa tidak harus melakukan perjanjian negosiasi sementara mereka masih bagian dari blok Uni Eropa.


(ABD)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

1 month Ago

Republik Sentilan Sentilun malam ini bertema "Pascareshuffle Mau Apa?" menghadirkan A…

BERITA LAINNYA