IMF: Ekonomi Asia Rentan terhadap Pengetatan Kebijakan Global

Angga Bratadharma    •    Kamis, 10 May 2018 19:04 WIB
imfekonomi dunia
IMF: Ekonomi Asia Rentan terhadap Pengetatan Kebijakan Global
Ilustrasi (FOTO: AFP)

New York: International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional mengungkapkan prospek pertumbuhan ekonomi Asia tetap kuat, tetapi kawasan ini rentan terhadap pengetatan tiba-tiba dalam kondisi keuangan global. Bahkan, kawasan tersebut rentan koreksi lebih lanjut pada pasar dan pergeseran menuju kebijakan proteksionis.

Mengutip CNBC, Kamis, 10 Mei 2018, dalam pembaruan prospek ekonomi regionalnya, IMF memproyeksikan Asia akan tumbuh 5,6 persen tahun ini dan tahun depan atau naik 0,1 persen poin dari pembaruan terakhirnya pada Oktober dan menyumbang sekitar dua pertiga dari pertumbuhan ekonomi global.

Sedikit peningkatan dalam prospek jangka pendek mencerminkan pertumbuhan dan perdagangan global yang kuat dan berbasis luas diperkuat oleh stimulus fiskal di Amerika Serikat (AS). Namun dalam jangka menengah, terdapat risiko yang harus ditekan sedemikian rupa oleh pihak-pihak terkait.

"Asia tetap rentan terhadap pengetatan kondisi keuangan global secara tiba-tiba dan tajam. Keuntungan dari globalisasi belum dibagi secara merata dan tindakan tarif dan pengumuman baru-baru ini adalah risiko lain dalam sebuah kebijakan. Tentu hal itu adalah potensi untuk mengganggu perdagangan internasional dan pasar keuangan," kata IMF.



Di antara risiko lainnya, IMF mengutip ketegangan geopolitik, serangan dunia maya, dan perubahan iklim. Istilah yang lebih panjang adalah demografi yang menua bisa menjadi hambatan besar pada ekonomi dan digitalisasi mungkin menjadi sumber ketidakpastian.

"Oleh karena itu, sebagian besar ekonomi harus mencari cara untuk memperkuat buffer kebijakan karena menutup kesenjangan output berarti mereka tidak memerlukan dukungan fiskal lebih lanjut," sebut IMF.

Untuk saat ini, dengan tekanan pada upah dan harga masih moderat, kebijakan moneter dapat tetap akomodatif di sebagian besar Asia. Tetapi bank-bank sentral harus siap untuk menyesuaikan sikap mereka karena inflasi meningkat, dan harus menggunakan kebijakan makroprudensial untuk menahan pertumbuhan kredit.

 


(ABD)