Obligasi Tiongkok jadi Primadona Investor Asing

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 08 Sep 2018 19:01 WIB
ekonomi chinationgkok
Obligasi Tiongkok jadi Primadona Investor Asing
Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)

Beijing: Obligasi Pemerintah Tiongkok menawarkan peluang yang besar bagi investor asing yang mencari tempat berlindung dari badai perang perdagangan. Tidak ditampik, keputusan Amerika Serikat (AS) yang mengenakan tarif tinggi memunculkan perang dagang lantaran terdapat aksi pembalasan serupa dari negara mitra dagang.

Tarif antara Washington dan Beijing telah mencetak tekanan langsung di pasar saham Tiongkok dan mata uang yuan, yang keduanya turun tajam tahun ini. Tetapi langkah-langkah yang diambil Tiongkok untuk meningkatkan akses bagi investor asing ke utang pemerintah dikombinasikan dengan beberapa faktor teknis yang tepat waktu, membuat opsi yang menarik.

Manajer Portofolio JP Morgan Asset Management Jason Pang mengatakan peluang terletak pada beberapa faktor. Menurut Pang obligasi Tiongkok mengungguli utang mata uang Asia lainnya dalam enam bulan pertama di 2018 karena investor domestik mencari keamanan di tengah gejolak di pasar saham saham.



Keseluruhan kepemilikan asing atas utang pemerintah sekitar tujuh persen atau rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Kondisi itu membuat investor asing mulai masuk ke obligasi Pemerintah Tiongkok, bahkan ketika investor melarikan diri dari ekuitas. Daya tarik utama bagi orang asing, kata Pang, adalah biaya yang lebih murah untuk lindung nilai.

"Atau adanya asuransi terhadap risiko mata uang yang melindungi, misalnya, para investor USD membeli obligasi dalam mata uang yuan Tiongkok," kata Pang, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 8 September 2018.

Selain itu, tambah Pang, investor asing menilai pasar obligasi Tiongkok berada pada posisi kurang berkorelasi dengan pasar lain yang artinya tidak secara otomatis akan mengalami tekanan ketika terjadi gejolak di ekonomi dunia. Kondisi seperti ini yang membuat investor menjadikan obligasi Tiongkok sebagai salah satu primadona.

"Karena Anda memiliki perwakilan asing yang sangat rendah didalamnya maka negara itu sendiri sebenarnya kurang rentan terhadap arus keluar investasi asing yang khususnya untuk obligasi," pungkas Pang.

 


(ABD)