Tampik Andalkan Diskon

Alibaba Bersiap Kembangkan Sensasi Virtual di Toko Offline

Arif Wicaksono    •    Sabtu, 11 Nov 2017 12:07 WIB
alibaba
Alibaba Bersiap Kembangkan Sensasi Virtual di Toko <i>Offline</i>
Suasana saat pelanggan mencoba di toko Aline De Rose. (FOTO: MTVN/Arif Wicaksono)

Shanghai: Meskipun dikenal sebagai pelaku e-commerce, Alibaba tak lupa untuk terus mengembangkan bisnis offline. Untuk menarik minat konsumen berbelanja secara offline, Alibaba melakukan berbagai inovasi virtual yang memberikan pengalaman unik bagi konsumen yang membeli barang secara offline.

Vice President dan Co Founder Alibaba, Jso Tsai, mengatakan saat ini Alibaba sedang mengembangkan metode augmented reality (AR) untuk memberikan sensasi kepada konsumen. Konsep ini dilakukan untuk memberikan kepuasan bagi konsumen yang memilih berbelanja melalui offline.

"Belanja itu hiburan dan ini akan menarik bagaimana kita kembangkan Augmented Realty di beberapa store kita," kata dia di Shanghai, Jumat malam 10 November 2017.

Jso terus menegaskan ini ketika melakukan presentasi di depan para pewarta. Ketika ditanyakan apakah akan mengandalkan diskon untuk menarik konsumen, dia menampiknya. Dia mengatakan bahwa diskon hanya menjadi salah satu strategi marketing dan bukan satu-satunya yang wajib dilakukan dalam promosi e-commerce.

"Kita tak fokus kepada diskon. Diskon hanya salah satunya karena kita akan lebih kepada perkembangan entertainment saat shopping," jelas dia.

Dia menegaskan Alibaba akan terus berusaha mengembangkan pertumbuhan konsumsi Tiongkok. Alibaba yakin bahwa semakin tingginya standar hidup rakyat Tiongkok, maka akan memengaruhi cara mereka dalam mengonsumsi barang. Semakin mapan rakyat Tiongkok, maka akan membuat mereka membutuhkan sensasi yang tak diperoleh sebelumnya.

Potensi ini terbuka lebar karena adanya pertumbuhan pesat dari pendapatan per kapita Tiongkok dari USD7.000 per kapita pada 1999 menjadi USD80 ribu per kapita saat ini. Potensi tersebut yang harus diambil oleh Alibaba sebagai salah satu pemain e-commerce berskala global dengan memperkuat penetrasi di negaranya.

"Selama 10 tahun gaji naik double digit, semua orang membicarakan belanja dan shopping pay," kata dia.

Konsep AR

Dalam kunjungan Media ke Shanghai, Jumat 10 November 2017, konsep yang Alibaba kembangkan dengan gaya AR hadir di Toko Hema dengan memudahkan metode pembayaran dengan wajah. Cukup menampakkan wajah di kotak tertentu maka pembayaran melalui sistem cashless sudah terjadi.

Selain itu, dengan aplikasi Hema, konsumen bisa mengetahui riwayat barang tersebut ketika ditempelkan ke barcode yang tertera dalam setiap produk. Kondisi, berat, maupun sisa waktu kedaluwarsa bisa diketahui dengan cara itu.



Kemudian yang dikembangkan Alibaba juga terjadi di Shisedo Pop up Store. Di tempat ini konsumen akan merasakan sensasi melalui Tmall Magic Miror. Konsumen dapat memilih lipstik secara virtual melalui kaca itu. Cukup berdiri di depan kaca konsumen dapat melihat bibirnya secara virtual mendapatkan lipstik beraneka warna.

Yaya, salah satu yang mencoba cara ini mengatakan bahwa ini membuatnya dapat melihat warna lipstik untuk beraneka macam tanpa merasakan sentuhan dari lipstik sungguhan.

"Rasanya memang agak beda karena kita tak dapat lipstik beneran," kata dia.




Shiseido pop up store.


Aline De Rose.

Sensasi berikutnya berusaha ditunjukkan dalam toko Aline De Rose. Toko ini menyajikan konsep AR dengan memberikan bayangan baju yang akan dipakai dalam guide screen. Ketika barcode ditap ke guide screen, tampak bahwa tampilan baju dengan berbagai mode akan dikenakan model di layar kaca.

Konsep ini membuat konsumen membayangkan baju yang akan dipakai sebelum membeli baju. Konsep yang ketiga ini kadang terkesan berlebihan karena toko ini tampak tak menyediakan kaca bagi pembeli untuk melihat baju yang akan dipakainya, namun hanya menyediakan ruang ganti baju saja.

Namun, secara garis besar konsep toko yang ditawarkan Alibaba mengandung otomatisasi ketika pembayaran bisa dilakukan tanpa melalui petugas kasir dan membuat konsumen hanya cukup menaruh barcode di meja pembayaran dan memencet pilihan untuk membeli. Konsep yang secara tak langsung dapat mengurangi tenaga kerja.


(AHL)