Ringgit Menguat, CPO Berpotensi Makin Tertekan

   •    Rabu, 11 Jul 2018 17:25 WIB
cpo
Ringgit Menguat, CPO Berpotensi Makin Tertekan
Ilustrasi. (FOTO: dok Malaysia Online)

Jakarta: Komoditas crude palm oil (CPO) pada perdagangan Selasa, 10 Juli 2018 ditutup di harga 2.259 ringgit Malaysia, dengan histori pada hari perdagangan tersebut menyentuh harga rendah (low) di 2.234 ringgit Malaysia serta harga tinggi (high) di 2.272 ringgit Malaysia.

CPO berjangka Malaysia turun lebih dari satu persen ke level terendah dua tahun di perdagangan Selasa, dipengaruhi oleh mata uang ringgit Malaysia yang mengalami penguatan. Mata uang ringgit Malaysia naik ke level kuat terhadap dolar dalam kurun waktu dua pekan di Selasa dengan naik sebesar 0,1 persen di kisaran 4,0200 ringgit Malaysia per USD1.

Harga acuan CPO kontrak untuk pengiriman September di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun sebesar 0,4 persen di harga 2.259 ringgit Malaysia atau setara dengan USD561,94 per metrik ton pada penutupan perdagangan Selasa. Setelah sehari sebelumnya sempat jatuh sebanyak 1,5 persen di kisaran 2.234 ringgit Malaysia yang merupakan level rendah sejak 15 Juli 2016.

"Penguatan mata uang ringgit Malaysia, ekspor, dan seluruh faktor untuk penurunan CPO saat ini. Dengan produksi yang berada di bawah ekspektasi, ekspor yang melambat, pun harga rendah menyebabkan importir untuk membeli tidak pada motivasi untuk membeli terburu-buru," ujar Analis Monex Investindo Futures Arie Nurhadi dalam hasil analisanya, Rabu, 11 Juli 2018.

Produksi Juni turun 12,6 persen menjadi 1,33 juta ton dibandingkan bulan sebelumnya, menurut rilis data dari regulator industri Dewan Minyak Sawit Malaysia atau MPOB pada Selasa kemarin, di mana output diperkirakan akan meningkat pada Juli dan sepanjang juga pada kuartal ketiga tahun ini sesuai dengan tren musiman yang telah berlangsung selama ini.

Pada sesi kedua perdagangan Selasa kemarin turut dirilis data ekspor periode 1-10 Juli 2018 dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan sebelumnya, menurut Surveyor kargo Societe Generale de Surveillance atau SGS merilis data ekspor CPO Malaysia pada 257.096 metrik ton versus 334.132 metrik ton, selisih 77.036 metrik ton dibandingkan dengan periode yang sama pada bulan sebelumnya atau turun sebesar 23,06 persen.

Perdagangan Rabu, 11 Juli 2018 -saat tulisan ini disusun- pergerakan harga CPO sedang berada pada level 2.217 ringgit Malaysia. Dengan perdagangan hari ini dibuka pada harga 2.245 ringgit Malaysia, sementara harga tinggi tercatat berada di 2.249 ringgit Malaysia, dan harga rendah di 2.212 ringgit Malaysia.

Pada perdagangan hari ini potensi penguatan lanjutan perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran:
- 2.308 ringgit Malaysia (resistance 3).
- 2.293 ringgit Malaysia (resistance 2).
- 2.285 ringgit Malaysia (resistance 1).

Sementara terdapat juga potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan support di kisaran harga:
- 2.209 ringgit Malaysia (support 1).
- 2.185 ringgit Malaysia (support 2).
- 2.164 ringgit Malaysia (support 3).


(AHL)


Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

3 hours Ago

Perang dagang yang kini tengah berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok secara langs…

BERITA LAINNYA