Nilai Perdagangan UEA-Tiongkok Capai USD52,65 di 2017

Angga Bratadharma    •    Kamis, 05 Jul 2018 14:06 WIB
uni emirat arabekonomi chinationgkok
Nilai Perdagangan UEA-Tiongkok Capai USD52,65 di 2017
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Dubai: Nilai perdagangan bilateral antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Tiongkok pada 2017 tercatat meningkat sebanyak 15,1 persen menjadi 195 miliar dirham (USD52,65 miliar), lapor kantor berita negara UAE WAM. Diharapkan perdagangan ini bisa terus membaik di masa-masa mendatang dan memberikan keuntungan di kedua belah pihak.

Kementerian Ekonomi Uni Eropa mencatat perdagangan non-minyak antara kedua negara naik berdasarkan uptick dalam re-ekspor sebesar 37,4 persen, mencapai 12,8 miliar dirham. Sementara impor membukukan pertumbuhan 14,7 persen dengan total 177,4 miliar dirham.

Mengutip Xinhua, Kamis, 5 Juli 2018, Kementerian itu juga mengatakan sebanyak 48 persen dari volume perdagangan atau USD25,69 miliar adalah perdagangan langsung antara UEA dan Tiongkok. Sementara 52 persen, atau USD27,64 miliar, berada di antara zona bebas UEA dan Tiongkok.

Perdagangan UAE-Tiongkok mencapai 14,7 persen dari perdagangan luar negeri UEA pada 2017. Produk polimer etilena, perangkat telepon, peralatan pemrosesan data dan pembaca visual termasuk barang yang paling banyak diimpor untuk UEA.



Sebelumnya, konsultan dan perusahaan riset yakni Rhodium Group mencatat keputusan akuisisi dan aktivitas investasi Tiongkok di Amerika Serikat (AS) turun sebanyak 92 persen menjadi hanya USD1,8 miliar dalam lima bulan pertama di 2018 ini. Secara divestasi, transaksi bersih Tiongkok ke AS selama periode tersebut adalah negatif USD7,8 miliar.

Penurunan yang tajam terjadi pada paruh kedua karena ada tekanan terhadap Beijing dari administrasi Trump yang akhirnya menahan lonjakan baru-baru ini dalam investasi lintas batas. Rhodium mencatat transaksi Tiongkok di AS mencapai rekor USD46 miliar pada 2016, dan turun menjadi USD29 miliar pada 2017.

Dalam mencari peluang investasi, perusahaan Tiongkok melakukan pembelian di luar negeri pada 2015 dan 2016. Tapi sekarang, Tiongkok ingin membatasi pelarian modal yang berlebihan. AS khawatir tentang perlindungan kekayaan intelektual dan telah meningkatkan pengawasan transaksi atas dasar keamanan nasional.

 


(ABD)