UE-Tiongkok Harus Mempromosikan Perdagangan Bebas dan Adil

Arif Wicaksono    •    Rabu, 19 Apr 2017 18:34 WIB
tiongkok
UE-Tiongkok Harus Mempromosikan Perdagangan Bebas dan Adil
Perdana Menteri (PM) Tiongkok Li Keqiang. Dok: Reuters.

Metrotvnews.com, Beijing: Tiongkok dan Uni Eropa harus mempromosikan sinyal positif dari globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas dan adil. Hal ini dikatakan Perdana Menteri (PM) Tiongkok Li Keqiang kepada diplomat top Uni Eropa Federica Mogherini.

"Tiongkok dan Uni Eropa, sebagai dua kekuatan besar di dunia, harus menjawab tantangan global, reformasi dan memperbaiki sistem tata kelola internasional, (dan) mempromosikan sinyal positif dari globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas dan adil," kata Li dikutip dari Reuters, Rabu 19 April 2017.

Dia mengatakan kedua belah pihak harus menanggapi perubahan dan ketidakpastian dalam situasi internasional dengan kerja sama dan stabilitas hubungan Tiongkok-Uni Eropa.

Beberapa diplomat Eropa mengatakan bahwa Tiongkok telah meluncurkan ofensif pesona dengan Uni Eropa sejak Presiden AS Donald Trump menjabat, dalam upaya untuk menemukan sekutu di tengah kekhawatiran bahwa Trump bisa merusak perdagangan bebas dengan kebijakan proteksionisnya.

Pernyataan Tiongkok yang dikutip Mogherini mengatakan bahwa Tiongkok dan Uni Eropa harus menjaga ketertiban internasional, menanggapi terorisme dan perubahan iklim dan tantangan global lainnya.

Komisaris iklim Eropa mengatakan bulan lalu bahwa Tiongkok dan UE tidak bisa mengharapkan kepemimpinan yang sama dari pemerintahan Trump, setelah presiden AS bergerak untuk membatalkan peraturan perubahan iklim dari pendahulunya, Barack Obama.

Namun Uni Eropa tetap berhati-hati tentang arah mitra dagang terbesar kedua nya, prihatin dengan ekspor baja besar Tiongkok, militerisasi atas pulau-pulau di Laut Cina Selatan dan berbelok ke arah otoritarianisme yang lebih besar di bawah Presiden Xi Jinping.

Xi telah membuat pertahanan yang kuat dari globalisasi dan memunculkan kesan Tiongkok sebagai pihak yang "terbuka lebar" terhadap urusan ekonomi, namun kelompok-kelompok bisnis asing mengeluhkkan sikap Tiongkok yang  mendiskriminasikan mereka dengan kebijakan yang membatasi akses mereka ke pasar Tiongkok  dan mendukung pelaku domestik.

Uni Eropa sedang mencari untuk perjanjian investasi bilateral dengan Beijing untuk membuatnya lebih mudah bagi perusahaan-perusahaan Eropa untuk melakukan bisnis di Tiongkok. 



(SAW)