Industri Energi AS Dinilai Tidak Terkena Dampak Perang Dagang

   •    Sabtu, 07 Apr 2018 15:01 WIB
ekonomi amerikaekonomi chinationgkokas-tiongkokPerang dagang
Industri Energi AS Dinilai Tidak Terkena Dampak Perang Dagang
Ilustrasi (AFP PHOTO/SCOTT HEPPELL)

New York: Ketika Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok melakukan pertempuran di sisi perdagangan, ada satu sektor yang sebagian besar tidak diikutsertakan untuk saat ini dan itu adalah energi. Meski demikian, ada harapan agar perang dagang antara AS dan Tiongkok tidak terjadi demi kepentingan bersama.

AS memiliki banyak hal, dan Tiongkok menginginkan lebih banyak. Tiongkok mengklaim 20 persen dari ekspor minyak AS tahun lalu dan yang terpenting, sebagai importir gas alam cair yang paling cepat berkembang di dunia, adalah importir siap LNG bagi AS.

Bahkan, jika bukan karena ledakan produksi energi AS selama dekade terakhir, defisit perdagangan AS akan menjadi lebih besar sebanyak USD400 miliar atau lebih. Tidak ditampik, Trump terus berupaya menekan defisit perdagangan agar bisa mengecil di masa mendatang.

"Cara terbaik dalam pandangan saya untuk memotong defisit perdagangan adalah meningkatkan ekspor, apakah itu LNG atau mobil atau aluminium atau apa pun," kata Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 7 April 2018.

Pada basis dolar murni, defisit dalam minyak dan produk-produk terkait telah menyusut menjadi USD46 miliar pada kuartal keempat tahun lalu, hanya sekitar sepersepuluh dari defisit puncak USD451,9 miliar pada kuartal ketiga 2008, menurut Mark Zandi, kepala ekonom di Moody Analytics.

Angka-angka itu tidak memecah fluktuasi harga minyak. Mereka menekankan fakta bahwa sektor minyak dan gas AS telah mengalami kemajuan pesat dan menggunakan teknologi baru untuk menemukan dan mengebor minyak serta gas dengan kecepatan yang seharusnya suatu hari nanti membuat AS tidak hanya produsen gas terbesar tetapi produsen minyak terbesar di dunia.

"Jika Anda melihat defisit perdagangan, pada dasarnya tidak berubah. Tetapi jika Anda melihat dibawahnya, sudah ada penurunan dramatis dalam defisit perdagangan minyak. Jika defisit perdagangan dalam minyak dan produk tetap tidak berubah pada level 2007, GDP akan 1,1 persen lebih rendah pada hari ini," pungkas Zandi.


(ABD)


Perpres DNI Rampung Pekan Depan

Perpres DNI Rampung Pekan Depan

1 week Ago

Pemerintah mempercepat penyelesaian rancangan per-aturan presiden (Perpres) mengenai Daftar Neg…

BERITA LAINNYA