Emas Dunia Tertekan Akibat USD Tetap Menguat

   •    Rabu, 10 Jan 2018 08:17 WIB
harga emasemaskomoditasekonomi dunia
Emas Dunia Tertekan Akibat USD Tetap Menguat
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Chicago: Kontrak emas berjangka di divisi Comex New York Mercantile Exchange berakhir lebih rendah untuk hari kedua berturut-turut pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Kondisi itu terjadi karena dolar Amerika Serikat (USD) tetap bertahan seiring dengan ekuitas global, sehingga mengurangi daya tarik aset-aset safe haven.

Mengutip Antara, Rabu, 10 Januari 2018, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari, turun USD6,7 atau 0,51 persen, menjadi ditutup pada USD1.313,70 per ounce. Indeks dolar AS, yang mengukur dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,2 persen menjadi 92,54 pada pukul 18.30 GMT.

Karena sebagian besar harga-harga komoditas dalam USD, penguatan dalam mata uang tersebut dapat menciptakan sebuah headwind bagi aset-aset seperti emas, yang mengurangi daya tariknya di antara pembeli yang menggunakan mata uang lemah. Emas juga melihat aksi ambil untung dari reli baru-baru ini, kata para pedagang.

Sedangkan untuk logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun 13,4 sen atau 0,78 persen, menjadi menetap di USD17,01 per ounce. Platinum untuk penyerahan April turun sebanyak USD4,1 atau 0,42 persen, menjadi ditutup pada USD972,3 per ounce.

Sehari sebelumnya, pada perdagangan Senin 8 Januari 2018, kontrak emas berjangka juga turun, karena penguatan USD memberikan tekanan terhadap logam mulia yang dihargakan dalam greenback. Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari pada Senin turun 1,9 dolar AS atau 0,14 persen, menjadi ditutup pada USD1.320,40 per ounce.

Di sisi lain, patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari meningkat USD1,23 menjadi menetap di USD62,96 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah menyentuh level tertinggi sejak Desember 2014 di USD63,24 per barel.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Maret, bertambah USD1,04 menjadi ditutup pada USD68,82 per barel di London ICE Futures Exchange, setelah mencapai titik tertinggi sesi di USD69,08, tertinggi sejak Mei 2015. Kedua kontrak tersebut mencatat penutupan terkuat sejak Desember 2014.


(ABD)