Ekonomi Inggris Dinilai Tidak Tahan dengan Kenaikan Suku Bunga

Angga Bratadharma    •    Jumat, 06 Oct 2017 14:06 WIB
brexitekonomi inggrisbank of england (boe)
Ekonomi Inggris Dinilai Tidak Tahan dengan Kenaikan Suku Bunga
Ilustrasi (FOTO: NDTV)

Metrotvnews.com, London: Lembaga pemeringkat Standard & Poor's telah memperingatkan bahwa ekonomi Inggris mungkin tidak cukup kuat untuk mendukung kenaikan suku bunga. Hal itu menyusul petunjuk dari pembuat kebijakan bahwa mungkin ada kenaikan biaya pinjaman di bulan depan.

Mengutip The Guardian, Jumat 6 Oktober 2017, S&P mengatakan secara skeptis bahwa Bank of England (BoE) dapat membenarkan kenaikan suku bunga setelah survei bisnis baru-baru ini menunjukkan pemulihan yang diharapkan dari paruh pertama yang lemah tahun ini telah gagal terwujud.

Dalam sebuah kritik kuat yang mengejutkan terhadap motif bank sentral, lembaga pemeringkat mengatakan bahwa Street Threadneedle sedang membicarakan gagasan kenaikan suku bunga dan nantinya kondisi itu diperkirakan hanya untuk menghentikan poundsterling bergerak meluncur.

Serangkaian pejabat BoE telah membuat pidato dalam beberapa pekan terakhir untuk mengatakan bahwa mungkin perlu menaikkan suku bunga pada pertemuan komite kebijakan moneter di November serta menekan kenaikan selanjutnya tahun depan guna mendinginkan kenaikan harga.



Gubernur BoE Mark Carney mengatakan, BoE siap menaikkan biaya pinjaman jika ekonomi terus menunjukkan tanda-tanda penguatan. "Semua indikasi bahwa dalam waktu yang relatif dekat Anda dapat memperkirakan suku bunga akan meningkat," katanya.

Terkait apa yang akan dilihat oleh investor City sebagai sanggahan, S&P mengaku, pihaknya tetap sedikit skeptis mengenai bagaimana pembenaran kenaikan seperti itu dalam waktu dekat. Kenaikan suku bunga bisa terjadi pada November, namun kenaikan lebih lanjut tidak dapat dibenarkan mengingat pertumbuhan upah lemah Inggris.

"Secara keseluruhan, kami percaya bahwa pernyataan BoE dan Mark Carney baru-baru ini terutama ditujukan untuk menopang sterling guna mengurangi tekanan inflasi yang diimpor," ungkap S&P.

 


(ABD)