Indeks Saham Amerika Serikat Rontok

   •    Jumat, 08 Feb 2019 07:03 WIB
wall street
Indeks Saham Amerika Serikat Rontok
Ilustrasi (FOTO: AFP)

New York: Saham-saham di Wall Street turun pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Kondisi itu terjadi karena kekhawatiran atas kemungkinan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan ketidakpastian perdagangan yang hidup kembali, membebani pasar.

Mengutip Antara, Jumat, 8 Februari 2019, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 220,77 poin atau 0,87 persen, menjadi ditutup di 25.169,53 poin. Indeks S&P 500 turun 25,56 poin atau 0,94 persen, menjadi berakhir di 2.706,05 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 86,93 poin atau 1,18 persen, menjadi ditutup di 7.288,35 poin.

Sebanyak sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 utama ditutup lebih rendah, dengan sektor energi jatuh 2,13 persen, memimpin penurunan. Saham-saham teknologi utama AS atau yang disebut kelompok FAANG, yakni Facebook, Apple, Amazon, Netflix, dan induk perusahaan Google, Alphabet, semuanya menurun. Sektor teknologi merosot 1,44 persen.

Komisi Eropa pada Kamis 7 Februari memangkas perkiraan pertumbuhan 2019 menjadi 1,3 persen dibandingkan dengan 1,9 persen pada 2018. Prakiraan pertumbuhan untuk Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol juga dipangkas. Proyeksi tersebut menyalakan kembali kekhawatiran bahwa ekonomi global mungkin akan melambat.

Wall Street juga semakin khawatir tentang perselisihan perdagangan global. Masalah perdagangan telah menjadi bagian besar dari kecemasan pasar sejak 2018. Diharapkan perang dagang yang tengah terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok bisa segera dihentikan guna kepentingan bersama.

"Meskipun ekspor hanya 10 persen dari PDB AS, 43 persen pendapatan perusahaan S&P 500 berasal dari luar Amerika Serikat," kata Peneliti di Bank of America Merrill LynchDavid Woo, dalam sebuah catatan baru-baru ini.

Pada laba perusahaan, Twitter melaporkan laba kuartalan yang mengalahkan ekspektasi analis pada Kamis 7 Februari. Namun, saham perusahaan media sosial AS itu anjlok sekitar 10 persen karena perusahaan juga mengungkapkan proyeksi yang suram.

Di sisi ekonomi, Departemen Tenaga Kerja melaporkan, dalam pekan yang berakhir 2 Februari, klaim pengangguran awal AS, angka kasar untuk mengukur Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), tercatat 234 ribu, turun 19 ribu dari tingkat yang tidak direvisi minggu sebelumnya. Angka ini gagal memenuhi konsensus pasar.


(ABD)