Sri Mulyani Tak Khawatir Dana Asing Keluar dari Surat Utang RI

Suci Sedya Utami    •    Minggu, 27 Nov 2016 17:27 WIB
obligasi
Sri Mulyani Tak Khawatir Dana Asing Keluar dari Surat Utang RI
Menkeu Sri Mulyani. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay.

Metrotvnews.com, Bogor: Sinyal bank sentral Amerika Serikat, The Fed untuk menaikkan tingkat bunga (Fed rate) di Desember 2016 semakin kuat.

Namun pemerintah tak khawatir meskipun langkah Fed akan membuat investor asing keluar dari surat utang negara (SUN) Indonesia atau terjadinya modal keluar(capital outflow).

Baca : Lelang Empat SUN, Pemerintah Serap Rp14 Triliun

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan hal itu tak akan berpengaruh signifikan, karena porsi asing di SUN saat ini sudah jauh mengecil yakni sekitar 10 persen, berbeda dengan 10 tahun lalu ketika dirinya menjabat pertama kali sebagai Menkeu.

Lagi pula, kata Ani ekonomi akan menjadi lebih stabil apabila defisit dibiayai oleh pasar domestik sehingga pergolakan eksternal akan memberikan perngaruh lebih sedikit. Itu pun sudah terbukti dengan penurunan porsi asing.

"Kalau mayoritas utang kita adalah dalam negeri, maka pengaruh eksternal menjadi lebih sedikit, termasuk Fed," kata Ani saat Pelatihan Media Keuangan di Sentul, Jawa Barat, Sabtu, 27 November.

Namun demikian, Ani menegaskan kondisi ekonomi yang baik akan tetap menarik investor di SUN Indonesia. Terbukti dengan yang membeli SBN bukan hanya domestik.

"Kita relatif punya fondasi yang cukup kuat dan solid dari sisi APBN, neraca pembayaran secara total. Dengan itu minat pegang SBN relatif stabil, mereka enggak mudah bergerak," ujar dia.

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (PPR) Kemenkeu Robert Pakpahan mengatakan likuiditas di pasar keuangan global akan tetap tinggi sepanjang makro ekonomi Indonesia bagus. Dia memandang dengan kondisi saat ini yang terjaga, harusnya SUN tetap laku dan tetap menarik.

Apalagi, tambah Robert, jka melihat tingkat bunga imbal hasil yang ditawarkan, Indonesia jauh lebih menarik dibanding Eropa yang masih negatif. Bahkan jika AS menaikkan bunganya dalam kisaran 25-50 basis poin.

"Itu memang keputusan investor, tapi pandangan kita masih tetap senang, investor yang beli ke kita kan global juga. Kita masih optimistis masih cukup menarik," pungkas Robert.

 


(SAW)