Jurus BI Redam Pelemahan Rupiah

Husen Miftahudin    •    Jumat, 05 Oct 2018 16:16 WIB
rupiah melemahkurs rupiah
Jurus BI Redam Pelemahan Rupiah
Ilustrasi Bank Indonesia. (FOTO: MI/Usman Iskandar)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) mengakui nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus menukik beberapa hari terakhir. Guna meredam pelemahan rupiah, otoritas melakukan beberapa langkah strategis.

Kata Gubernur BI Perry Warjiyo, upaya yang dilakukan bank sentral dalam menjaga stabilisasi rupiah adalah menjaga supply dan demand pasokan valuta asing (valas). Ini dimaksudkan agar pasar keuangan balas bergerak stabil.

"Kita terus berada di pasar tidak hanya memantau tapi juga melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar yang diperlukan sesuai dengan mekanisme pasar," ujar Perry di kompleks perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 5 Oktober 2018.

Demi menjaga pasokan valas, BI terus berkomunikasi dengan pelaku perbankan dan sektor rill. Termasuk melakukan komunikasi dengan eksportir dan importir di kalangan pengusaha agar tidak segan-segan menjual USD.

"Sejauh ini supply demand itu berjalan dengan baik dan mekanisme pasar berjalan baik. Tidak segan-segan apresiasi kepada para pengusaha yang sama-sama juga mensuplai valasnya. Kemudian juga perbankan yang terus menjaga mekanisme pasar," jelasnya.

Bank sentral juga akan mempercepat persiapan teknis pemberlakukan transaksi Domestic Non Deliverable Forward (DNDF). Secara ketentuan, DNDF telah mulai berlaku, namun butuh persiapan lebih mendalam terkait teknis operasionalnya.

"Misalnya di perbankan, dari sisi dealing room-nya, dari sisi konversi transaksinya, dari manajemen risikonya, dari treasury-nya, dari IT-nya, itu yang terus dilakukan. Insyaallah dalam dua minggu ini bisa dilakukan," ucap Perry.

Selain itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan. "Koordinasi dengan Menko Perekonomian, Menkeu, Ketua OJK terus diperkuat untuk langkah-langkah lanjutan untuk penurunan cureent account deficit," jelas Perry.

Mengutip keterangan resmi BI pada Rabu, 3 Oktober 2018, otoritas juga terus melakukan bauran kebijakan untuk menstabilisasi nilai tukar rupiah. Di antaranya menaikkan suku bunga kebijakan bunga kebijakan moneter BI-7 Day Reverse Repo Rate sebesar 150 basis points (bps) menjadi 5,75 persen, melakukan intervensi ganda di pasar valas dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder, penyediaan swap valas dan swap hedging dengan biaya yang relatif murah, serta akselerasi pendalaman pasar keuangan seperti INDONIA sebagai referensi suku bunga pasar uang.

"Apa yang terjadi dengan nilai tukar rupiah dan juga kondisi di Indonesia itu harus dilihat secara relatif. Dalam hal ini, apabila bicara nilai tukar jangan dilihat pada levelnya, tapi perlu dilihat tingkat depresiasinya dibanding dengan negara lain," tutur Perry.

Hingga Selasa, 2 Oktober 2018, secara year to date (ytd) depresiasi rupiah sebesar 9,82 persen. Lebih rendah ketimbang beberapa negara peers seperti India (12,40 persen), Afrika Selatan (13,83 persen), Brasil (17,59 persen), dan Turki (37,26 persen).

Pada perdagangan Jumat, 5 Oktober 2018 pagi, rupiah terlihat masih terpukul ke zona merah dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp15.179 per USD.

Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah perdagangan pagi dibuka tertekan ke Rp15.189 per USD. Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp15.189 hingga Rp15.193 per USD dengan year to date return di 12,08 persen. Sementara itu, menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.966 per USD.

 


(AHL)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

2 days Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA