Menteri tak Akur Buat Daya Beli Turun

Lukman Diah Sari    •    Sabtu, 05 Aug 2017 12:32 WIB
pertumbuhan ekonomi
Menteri tak Akur Buat Daya Beli Turun
Ekonom senior sekaligus pendiri INDEF Didik J. Rachbini. Foto: Antara/Andika Wahyu.

Metrotvnews.com, Jakarta: Daya beli masyarakat Indonesia disebut mengalami penurunan. Hal itu diduga akibat hubungan antara menteri koordinator dan menteri lainnya tak berjalan baik. 

"Menterinya satu sama lain cekcok berkelahi leadership ekonomi itu tidak ada," kata ekonom senior sekaligus pendiri INDEF Didik J. Rachbini dalam Diskusi bertajuk "Daya Beli Menurun, Stagnasi atau Digitalisasi Ekonomi?" di Gadi-Gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu 5 Agustus 2017. 

Menurut dia, leadership ekonomi menjadi salah satu masalah utama. Meskipun daya beli menurun, kata dia, kegiatan ekonomi tetap berjalan lantaran konsumen di Indonesia tinggi sehingga masih dapat mengembangkan ekonomi. 

"Gerak ekonomi kita cuma 4 persen. Itu tidak seharusnya. Kan janji kanpanye 7 persen, mana. Bisa ditagih enggak," ujar dia. Didik mengatakan, kalau pun tak bisa mencapai janjinya, seharusnya pemerintah berupaya agar bisa setidaknya di angka 5 persen. 

Dia mencontohkan, penjualan motor minus 13 persen pada semester ini bila dibanding tahun lalu. Penjualan motor, kata dia, adalah indikasi dari keseluruhan. Adanya penurunan adalah salah satu gejala. 

"Konsumsi listrik biasanya 7 sampai 8 persen, tinggal 1 persen. Nah ini pemerintah harus lihat dengan seksama agar ekonomi tak mengalami slow down berikutnya," beber dia. 

Selain itu, pemerintah memiliki tugas untuk mengembangkan dan mengembalikan nilai ekspor. Pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono di 2012, nilai ekspor USD200 miliar. Sekarang hanya USD 130 miliar.

"Kira-lira tekor USD60 miliar ya hampir Rp1.000 triliun hilang dan itu harus dikembalikan ekonomi kita. Export policy kita itu karena menterinya saling cekcok," jelas dia. 

Dia mengatakan, harus ada dorongan terhadap ekonomi saat ini. Terlebih, kata dia, ekonomi Indonesia paling berkembang di jalur utara dan selatan, sekitar 2/3 dari ekonomi Indonesia.

"Kalau segi tiga itu diberesin dan fokus di situ dan pelabuhan Cilamaya yang tak beres karena politik itu diberesin, ekonomi bisa masuk sampai 7 persen. Tapi, bisa ada kesenjangan. Oleh karena itu, yang luar Jawa di beri pembangunan infrastruktur lain," pungkas dia.


(OGI)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

13 hours Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA