BP Batam Gencar Cari Investor Galangan Kapal

Anwar Sadat Guna    •    Rabu, 23 Aug 2017 10:17 WIB
investasi di batam
BP Batam Gencar Cari Investor Galangan Kapal
Kesibukan salah satu kapal di Kota Batam. (FOTO: MI/Hendri Kremer)

Metrotvnews.com, Batam: Badan Pengusahaan (BP) Batam gencar mencari investor agar menanamkan modalnya di industri penunjang galangan kapal (shipyard) di Batam. Saat ini, industri shipyard Batam redup seiring merosotnya order pembuatan kapal baik dari luar maupun dalam negeri.

Direktur Lalu Lintas Barang BP Batam Tri Novianta Putra mengatakan, ada beberapa alternatif yang sedang dikaji BP Batam agar industri galangan kapal di Batam bergairah lagi, antara lain mendatangkan investor asing untuk menjadi partner atau mitra di industri shipyard di Batam.

"Jadi, industri shipyard yang sudah ada di Batam kita partnerkan dengan investor asing yang ingin investasi di bidang industri galangan kapal," kata Tri dalam acara Diskusi Media bertajuk "Galangan Kapal, Masalah dan Solusinya, di Hotel Venesia, Batam, Selasa 22 Agustus 2017.

Alternatif lain, kata Tri, yakni menggandeng investor lain yang memiliki industri sejenis dengan shipyard agar bisa bekerja sama sampai menunggu industri galangan kapal di Batam pulih. "Industri tersebut misalnya industri penunjang peralatan atau fasilitas produk-produk shipyard di Batam," jelasnya.

Selain itu, sambung Tri, upaya lainnya yang dilakukan BP Batam yakni menganalisa lagi prospek industri galangan kapal di Batam ke depan seperti apa? Apakah masih tetap redup atau menggeliat lagi. Hal ini, menurut Tri, masih dalam pengkajian tim BP Batam.

"Pengkajian itu sudah mulai dibahas. Tetapi saya enggak berani menyampaikan secara detil karena ada (tenaga) ahli yang mengkaji di bidang (shipyard) ini. Nanti tenaga ahli tersebut yang akan menyampaikan seperti apa hasil kajiannya," papar Tri.

Seperti diketahui, terdapat sekira 110 industri galangan kapal di Batam. Total luas lahan yang digunakan seluruh shipyard tersebut mencapai 2.298 hektare (ha). Dari jumlah tersebut, 70 perusahaan merupakan pembuat kapal dan 40 perusahaan lainnya adalah industri yang mendukung industri pembuatan kapal.

Ketua Batam Shipyard Offshore Association (BSOA) Sarwo Edi mengatakan, industri shipyard merupakan salah satu fondasi ekonomi Batam, dan Kepri pada umumnya. Ketika industri ini redup, maka dampaknya ekonomi Batam juga ikut merosot. Merosotnya industri galangan kapal di Batam, kata Edi, sudah terasa sejak awal 2015 lalu. Ketika ekonomi global mulai guncang akibat merosotnya harga minyak dunia.

"Seperti kita ketahui bersama bahwa industri di Batam ini umumnya berorientasi ekspor, nah ketika ekonomi global (dunia) goyang, tentu Batam terkena imbasnya," kata Edi yang turut hadir dalam acara diskusi media tersebut.

Saat ini, kata dia, dari 110 shipyrad di Batam kini hanya ada lima perusahaan yang masih mengerjakan proyek pembuatan kapal. "Itu pun merupakan proyek-proyek sisa yang akan berakhir pengerjaannya. Tahun depan sudah tidak ada proyek lagi," tuturnya.

Edi mengaku sulit memprediksi seperti apa kondisi shipyard Batam ke depan. Selain dampak ekonomi global, proyek-proyek pembuatan kapal di pemerintahan Presiden Joko Widodo juga mulai jauh berkurang. "Saat ini, pemerintahan Presiden Jokowi fokus ke tol laut, termasuk pembangunan jalan tol di berbagai daerah," ujarnya.

Pihaknya berharap BP Batam dapat membantu mencari solusi mengatasi redupnya industri shipyard di Batam. "Kami butuh support dari BP Batam agar industri shipyard di Batam bisa bangkit lagi," ujarnya.

Pengamat Ekonomi Kepri, Suyono Saputro mengakui, lesunya perekonomian Batam sangat terasa ketika industri galangan kapal redup akibat dampak dari ekonomi global.

"Kenapa terasa, karena shipyard adalah salah satu penopang utama perekonomian Batam. Industri ini mempekerjakan puluhan ribu tenaga kerja. Ketika shipyard lesu dan banyak industri tutup, sebanyak 15 ribu tenaga kerja kehilangan pekerjaan," kata Suyono.

Para pemangku kepentingan atau stakeholders, kata dia, perlu segera mencari solusi mengatasi lesunya industri shipyard di Batam. "Perlu ada terobosan agar industri ini bisa bangkit lagi. Karena jika tidak, Batam akan makin tertinggal dengan negara lain, seperti Tiongkok, Korea, dan Jepang, bahkan Singapura sebagai negara dengan industri shipyard yang terbilang cukup besar di Asia," ujar dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam (UIB) ini.


(AHL)