Pembatasan Impor Genjot Produksi dalam Negeri

Gana Buana    •    Kamis, 06 Sep 2018 12:40 WIB
PPh Impor
Pembatasan Impor Genjot Produksi dalam Negeri
Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto.

Jakarta: Beleid pengendalian impor bisa menggenjot produksi dalam negeri. Industri Indonesia diyakini siap menambah produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.
 
"Seperti sektor otomotif, ini adalah sektor yang diprioritaskan pengembangannya oleh pemerintah. Terutama dalam menghadapi revolusi industri 4.0," kata Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 6 September 2018.
 
Airlangga mencontohkan investasi Toyota Group di Indonesia yang belakang mencapai Rp20 triliun. Mereka menargetkan total ekspor mobil utuh (CBU) untuk tahun ini sebanyak 217 ribu unit atau senilai lebih dari USD3 juta.
 
"Pertengahan bulan ini juga akan ada ekspor dari Suzuki, sehingga ekspor secara keseluruhan di tahun ini akan menembus hingga 250 ribu unit," ungkapnya.
 
Peningkatan ekspor dinilai dapat memperbaiki struktural ekonomi Indonesia, yakni defisit transaksi berjalan. Guna menjaga fundamental ekonomi Indonesia, pengendalian impor mobil mewah akan efektif pada bulan ini.
 
Kendaraan yang terkena dampak langsung adalah mobil yang memiliki kapasitas di atas 3000 cc dan yang dikategorikan sebagai supercar.
 
"Kalau yang sudah on the way, ya dilanjutkan saja. Untuk kategorinya dari sisi harga sudah tinggi dan kita sudah punya kriteria sesuai Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Misalnya kategori supercar. Kan tidak ada supercar yang tidak mewah,” ujarnya.
 
Dari sisi jumlah sebenarnya kuota impor mobil mewah selama ini termasuk kecil untuk Indonesia. Namun dengan pelarangan impor mobil mewah ini, pemerintah ingin menunjukkan komitmennya pada produksi mobil dalam negeri.

Baca: Menkeu Pastikan Pembatasan Impor Takkan Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

Pemerintah berharap dengan kebijakan pengendalian impor termasuk untuk mobil mewah, membuat industri otomotif dalam negeri dapat meningkatkan kapasitas ekspornya agar bisa mendatangkan devisa bagi negara.
 
Airlangga menyebutkan beberapa sektor andalan yang dapat memacu nilai ekspor, antara lain industri makanan dan minuman, industri bahan kimia dan barang kimia, industri pengolahan logam, industri tekstil dan produk tekstil, serta industri pengolahan karet.
 
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah berharap industri bisa melihat kesempatan ini untuk mengganti produk impor. Sebab sekarang barang itu jadi lebih mahal menjadi 15-20%.
 
"Ini yang kita bikin pemihakan pada industri dalam negeri," kata Sri.
 
Dengan penyesuaian tarif baru ini, beban impor yang selama ini menggerogoti devisa negara bisa berkurang sebesar 2 persen dibandingkan tahun lalu.
 
"Untuk studinya kenaikan 2-4% tarif bea masuk, nilai impor kita akan turun sekitar 1%. Jadi kalau PPh dianggap kurang lebih sama dengan bea masuk, penurunan impor sekitar 2% year on year," ujarnya.




(FZN)