Menkeu: Pemerintah All Out Hadapi Tekanan Global

Eko Nordiansyah    •    Kamis, 06 Sep 2018 06:03 WIB
pertumbuhan ekonomiekonomi indonesia
Menkeu: Pemerintah <i>All Out</i> Hadapi Tekanan Global
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (MI/MOHAMAD IRFAN)

Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan pemerintah sudah all out dalam menghadapi tekanan global yang terjadi belakangan ini. Berbagai instrumen sudah diterapkan demi meredam dampak gejolak global yang membuat tekanan terhadap ekonomi Indonesia.

"Kita all out menggunakan semua instrumen mulai dari fiskal, perdagangan, kebijakan industri, dan lain-lain untuk membuat keseimbangan eksternal, impor dikendalikan, dan capital inflow bisa masuk," kata Ani, sapaan akrabnya, di Kemenkeu, Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat, Rabu, 5 September 2018.

Kondisi tahun ini, menurutnya, sangat berbeda dengan yang terjadi dua tahun lalu. Tahun ini kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS) serta kebijakan quantitative easing di negara maju membuat tekanan di pasal finansial, ditambah perang dagang yang menganggu pasar perdagangan internasional.

"Dalam dua tahun antara 2016-2017 itu defisit transaksi berjalan mencapai USD17 miliar. Namun defisit itu mampu diimbangi dengan surplus neraca transaksi modal dan finansial pada kisaran USD29 miliar," jelas dia.

Sementara defisit transaksi berjalan telah mencapai USD13,7 miliar sampai dengan semester I-2018, dengan perkiraan hingga akhir tahun mencapai USD25 miliar. Sedangkan surplus neraca transaksi modal dan finansial hanya USD6,5 miliar dengan perkiraan mencapai USD13 miliar hingga akhir tahun.

"Apalagi sekarang fund manager menganggap semua emerging market itu berisiko. Karena mereka menghadapi risiko ini maka terjadi keseimbangan di pasar. Ini karena interest rate naik dan likuiditas menurun dari sisi dolar, sehingga USD naik," ungkapnya.

Untuk itu, pemerintah berupaya mengambil sejumlah langkah mulai dari mengurangi impor minyak dengan mewajibkan biodiesel sebesar 20 persen (B20), hingga menekan impor barang konsumsi dengan menaikan Pajak Penghasilan (PPh) 1.147 jenis barang.

 


(ABD)