BI Catat Neraca Pembayaran Indonesia Surplus USD700 Juta di Kuartal II-2017

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 11 Aug 2017 18:21 WIB
neraca pembayaran indonesia
BI Catat Neraca Pembayaran Indonesia Surplus USD700 Juta di Kuartal II-2017
Ilustrasi kantor Bank Indonesia. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2017 mencatat surplus sebesar USD700 juta ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang lebih besar dari defisit transaksi berjalan. Surplus NPI tersebut mendorong peningkatan posisi cadangan devisa dari USD121,8 miliar pada akhir kuartal I-2017 menjadi USD123,1 miliar pada akhir kuartal II-2017.

"Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 8,6 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Agusman dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat 11 Agustus 2017.

Surplus transaksi modal dan finansial didukung oleh kuatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia seiring pencapaian investment grade. Transaksi modal dan finansial pada kuartal II-2017 mencatat surplus USD5,9 miliar didukung oleh meningkatnya surplus investasi langsung dan investasi portofolio.

Surplus transaksi modal dan finansial tersebut lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada kuartal I-2017 sebesar USD8,0 miliar maupun surplus pada kurtal II-2016 sebesar USD6,9 miliar. Lebih rendahnya surplus disebabkan oleh meningkatnya defisit investasi lainnya, terutama kebutuhan untuk pembayaran utang luar negeri serta antisipasi perbankan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas valas perbankan yang bersifat temporer dalam menghadapi libur panjang Lebaran.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan tercatat lebih besar seiring menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas disertai meningkatnya defisit neraca jasa dan pendapatan primer. Defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2017 tercatat sebesar USD5,0 miliar atau 1,96 persen PDB, meningkat dari USD2,4 miliar atau 0,98 persen PDB pada kuartal I-2017, namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan defisit pada kuartal II-2016 sebesar USD5,2 miliar atau 2,25 persen PDB.

Penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas disebabkan oleh turunnya ekspor nonmigas di tengah tingginya impor nonmigas, baik bahan baku dan barang konsumsi, untuk memenuhi permintaan domestik selama bulan puasa dan Lebaran. Sementara itu, meningkatnya defisit neraca jasa bersumber dari turunnya surplus jasa travel.

"Dan naiknya defisit neraca pendapatan primer karena meningkatnya pembayaran dividen sesuai dengan pola musimannya. Peningkatan defisit transaksi berjalan lebih lanjut tertahan oleh menurunnya defisit neraca perdagangan barang migas sejalan dengan turunnya harga dan volume impor minyak," jelas dia.

Perkembangan NPI pada kuartal II-2017 secara keseluruhan menunjukkan terpeliharanya keseimbangan eksternal perekonomian sehingga turut menopang berlanjutnya stabilitas makroekonomi. Bank Indonesia terus mewaspadai perkembangan global, khususnya risiko terkait kebijakan bank sentral AS dan faktor geopolitik, yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan.

"Bank Indonesia meyakini kinerja NPI akan semakin baik didukung bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, khususnya dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural," pungkasnya.

 


(AHL)