BI: Stabilitas Sistem Keuangan Semester II-2017 Lebih Baik

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 18 May 2018 11:25 WIB
bank indonesiapasar keuangankssk
BI: Stabilitas Sistem Keuangan Semester II-2017 Lebih Baik
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (kiri) saat peluncuran buku Kajian Stabilitas Keuangan. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyebut stabilitas sistem keuangan menunjukkan perkembangan yang lebih baik pada semester II 2017 dibandingkan dengan periode sebelumnya. Meskipun bank sentral melihat intermediasi perbankan masih tumbuh secara terbatas pada periode tersebut.

Hal ini sebagaimana tertuang dalam buku 'Kajian Stabilitas Keuangan' Nomor 30, Maret 2018 yang diterbitkan oleh BI. Dalam buku tersebut, kondisi sistem keuangan yang stabil tersebut ditunjukkan oleh pergerakan Indeks Stabilitas Sistem Keuangan (ISSK) yang terjaga di zona normal.

"Perkembangan positif dari SSK tidak terlepas dari pengaruh menurunnya risiko sistem keuangan global pada semester laporan," kata Gubernur BI Agus Martowardojo dalam peluncuran di Gedung Sjafruddin Prawiranegara, Kompleks BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 18 Mei 2018.

Hal ini, lanjut Agus, sejalan dengan perekonomian dunia yang membaik dan ketidakpastian di pasar keuangan yang menurun. Akselerasi pemulihan ekonomi global telah meningkatkan optimisme pasar dan menurunkan risiko terjadinya gangguan stabilitas pasar keuangan.

"Risiko sistem keuangan global yang menurun juga didukung oleh arah kebijakan moneter dari negara maju yang sesuai perkiraan pasar dan risiko geopolitik yang relatif mereda. Perkembangan positif dari global tersebut pada gilirannya memberikan momentum positif bagi perekonomian Indonesia," jelas dia.

Sejalan dengan menurunnya risiko di sistem keuangan global, risiko perekonomian domestik juga menurun pada semester II-2017. Perbaikan ini didukung oleh stabilitas makroekonomi yang terjaga sejalan dengan inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang meningkat.

"Keseimbangan eksternal perekonomian Indonesia cenderung membaik. Neraca pembayaran tercatat surplus dengan defisit transaksi berjalan yang menurun. Di sisi lain, nilai tukar rupiah cenderung stabil, meskipun sedikit tertekan di akhir tahun," pungkasnya.


(AHL)