Pemerintah Buka Penawaran SBR003 Mulai dari Rp1 Juta

Eko Nordiansyah    •    Senin, 14 May 2018 12:40 WIB
surat utangkementerian keuangane-SBN
Pemerintah Buka Penawaran SBR003 Mulai dari Rp1 Juta
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman (tengah). (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya)

Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membuka penawaran untuk Surat Utang Ritel atau Saving Ritel Bond (SBR) dengan seri SBR003. Masa penawaran secara resmi dibuka sejak 14 Mei 2018 sampai dengan 25 Mei 2018, dan akan ditawarkan melalui Surat Berharga Negara online (e-SBN).

"Saya nyatakan dengan ini penawaran SBR003 dibuka. Semoga penerbitan ini bisa mengulang sukses seperti SBR sebelumnya atau lebih baik lagi," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Luky Alfirman di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Senin, 14 Mei 2018.

Dirinya menambahkan, SBN ritel online seri SBR003 ditawarkan dengan tenor dua tahun dan minimal pemesanan Rp1 juta dan maksimal Rp3 miliar. Penetapan hasil penjualan akan diumumkan pada 28 Mei 2018 dan settlement akan dilakukan pada 31 Mei 2018.

Baca: Pemerintah Ajak Milenial Investasi via SBN Ritel Online

Hasil dari penjualan SBR003 ini akan digunakan untuk mendanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga pemberdayaan SDM. Dengan penawaran online serta harga terjangkau, diharapakan surat berharga ini akan memperluas investor ritel dan meningkatkan finansial inklusi.

"Yang penting, kita ingin mengubah masyarakat dari saving oriented dan investment oriented. Dengan penawaran via online dan batas minimum Rp1 juta, ini ditunjukan untuk individu sehingga diberharap SBR003 ini bisa menyasar generasi milenial," jelas dia.

Pemerintah, lanjut Luky, menetapkan kupon SBR003 yang diberikan sebesar 6,8 persen yang didasarkan dari suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7-day Reverse Repo Rate ditambah spread tetap sebesar 225 basis poin (bps) atau 2,55 persen.

"Ini yang membedakan SBR003 dengan ORI. Kalau ORI kan suku bunganya tetap. Kalau ini floating on the floor, dengan batas bawah 6,8 persen. Enggak mungkin turun. Malah sepanjang tahun bisa saja naik jika BI rate-nya naik," pungkasnya.

 


(AHL)