Perbaikan Konsumsi di 2018 akan Kerek Inflasi ke Level 4%

Desi Angriani    •    Kamis, 07 Dec 2017 07:29 WIB
inflasi
Perbaikan Konsumsi di 2018 akan Kerek Inflasi ke Level 4%
Harga BBM salah satunya akan menjadi faktor pendorong inflasi di tahun depan. (ANTARA FOTO/M Adimaja)

Jakarta: Sektor konsumsi rumah tangga tahun depan diprediksi masih terganjal sehingga pertumbuhan ekonomi 2018 hanya akan mencapai lima persen. Namun jika terjadi perbaikan konsumsi di tahun depan maka laju inflasi bakal terdorong hingga ke level empat persen.

Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Aldian Taloputra mengatakan outlook inflasi 2018 diproyeksi lebih tinggi dari tahun ini yang sebesar 3,8 persen.

"Kita perkirakan agak tinggi sebenarnya empat persen di 2018. Tahun ini kita perkirakan 3,8 persen. Tapi saya katakan ada downside risk-nya karena lihat November kemarin cuma 3,3 persen jadi cukup rendah," katanya di Raffles Hotel Ciputra World, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 6 Desember 2017.

Menurutnya risiko kenaikan inflasi mulai tampak pada akhir tahun mengingat banyak permintaan selama Natal dan Tahun Baru. Berbeda dengan laju inflasi November yang masih cenderung rendah karena harga bahan pokok masih relatif stabil.

"Tapi yang ingin saya highlight arahnya bukan levelnya. Jadi 3,8 persen ke 4 persen ini kan naik. Kenapa naik? Ada dua alasan, pertama kita perkirakan demand lebih baik, inflasi inti permintaan masyarakat juga lebih baik," imbuh dia.

Sementara itu inflasi awal tahun depan bakal disumbang oleh kenaikan harga BBM. Salah satunya potensi kenaikan Pertamax. Adapun faktor cuaca dinilai tak terlalu signifikan dalam memengaruhi masa panen dan bercocok tanam. Sebab prakiraan cuaca masih relatif bagus hingga pertengahan tahun depan.

"Jadi kita perkirakan harga makanan harusnya inflasinya mulai normalisasi. Sekarang kan deflasi. Mungkin akan inflasi. Kedua dari sisi energi juga. Pemerintah akan adjustment di harga energi. Pertamax sudah naik jadi ada potensi dari situ," tutupnya.

Pada 2018 pemerintah telah menetapkan sasaran pertumbuhan pada kisaran 5,4-6,1 persen. Sasaran pertumbuhan yang lebih tinggi itu diarahkan untuk mendorong pemerataan pertumbuhan di kawasan timur Indonesia, kawasan perbatasan, dan juga daerah-daerah lain yang masih tertinggal.

Dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan inklusif, pemerintah berupaya keras menjaga laju inflasi dalam negeri pada tingkat yang rendah untuk menjamin daya beli masyarakat. Pada 2018, pemerintah akan berupaya menjaga inflasi pada rentang 2,5-4,5 persen.

 


(AHL)