Depresiasi Rupiah Tidak Menakutkan

Ilham wibowo    •    Senin, 10 Sep 2018 17:43 WIB
rupiah melemah
Depresiasi Rupiah Tidak Menakutkan
Kepala Departemen Internasional Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir (kedua dari kiri). (FOTO: Medcom.id/Ilham Wibowo)

Jakarta: Penurunan nilai mata uang rupiah saat ini dinilai bukan hal baru yang menjurus pada sebuah krisis. Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan bahwa rupiah akan terus bertahan stabil dengan upaya yang dilakukan pemerintah.

Kepala Departemen Internasional Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan butuh sinergi dari semua pihak termasuk masyarkat menyikapi fenomena global ini. Ia berkata, rupiah tak akan bangkit saat masyarakatnya terus berfikir negatif.

"Kita memang harus siap menghadapi penurunan rupiah ini mau tidak mau, tapi ini bukan merupakan hal baru dan tidak perlu ditakutkan," ucap Iskandar dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema "Bersatu untuk Rupiah" di Ruang Serba Guna Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Senin, 10 September 2018.

Ketidakpastian global yang terus bergejolak menjadi konsentrasi pemerintah untuk menjaga mata uang rupiah agar tak lanjut terdepresiasi. Menurut Iskandar, sebuah riset menunjukkan sentimen negatif dari pengguna rupiah malah cenderung berakibat buruk pada perekonomian di Tanah Air.

"Kalau kita berpikiran negatif, itu bisa mengakibatkan hal negatif. Bank sehat kalau nasabah berbondong-bondong tidak percaya bisa bangkrut itu bank. Itulah sebabnya jangan memberi informasi yang bisa membuat kita semua panik,” paparnya.

Iskandar memaparkan perkembangan ekonomi era 1998 hingga 2018 secara historis defisit neraca transaksi berjalan bukan pertama kali dialami. Angka defisit pernah mencapai minus terburuk pada 4,24 persen di 2013.

"Pada 2013, current account mengalami defisit minus 4,24 persen di triwulan keduanya. Hal Itu mengakibatkan neraca primer kita mengalami defisit besar,” paparnya.

Kekhawatiran berlebihan tidak diperlukan karena funfamental ekonomi di dalam negeri dianggap masih sangat kuat. Selain itu, tingkat inflasi yang dinilai masih rendah yakni 3,2 persen terus diwaspadai sembari memperhatikan kondisi neraca perdagangan.

"Di Argentina yang kondisi ketidakpastian global telah memicu terjadinya krisis menjadi lebih berat. Dari awal Januari mata uang Argentina terdepresiasi 49,62 persen, Turki juga mengalami depresiasi 40,7 persen. Coba bandingkan dengan kita, depresiasi hanya minus 8,5 persen," ungkapnya.

Pemerintah kini telah menerbitkan kebijakan kenaikan tarif PPh impor untuk mendorong kepercayaan masyarakat pada rupiah. Pemerintah juga akan terus mendorong  penggunanan komponen lokal untuk proyek-proyek infrastruktur untuk mengurangi beban impor.

"Sejumlah kebijakan untuk mendorong ekspor juga telah diterbitkan, antara lain dengan sistem OSS dan pos border," tegas dia.

Selain itu, kata dia, pemerintah juga mendorong penguatan pariwisata. Pada 18 Agustus lalu, pemerintah sudah memutuskan memberikan KUR pariwisata kepada UMKM tarifnya tujuh persen.

"Saya yakin dengan bersama-sama dengan masyarakat, dengan pemberitaan yang seimbang, saya yakin masyarakat percaya ekonomi solid sehingga nilai tukar kita menjadi seimbang," tandasnya.

 


(AHL)