Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Lebih Tinggi di Kuartal II-2017

Suci Sedya Utami    •    Senin, 07 Aug 2017 07:00 WIB
pertumbuhan ekonomiekonomi indonesia
Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Lebih Tinggi di Kuartal II-2017
Suasana kawasan perkantoran di Jakarta (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin siang 7 Agustus 2017 akan merilis capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2017. Beberapa ekonom memperkirakan capaian pertumbuhan tersebut akan lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tercatat 5,01 persen.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, pertumbuhan kuartal II akan mencapai 5,07 persen secara year or year (yoy). Josua mengatakan, kinerja ekonomi kuartal II didorong oleh peningkatan permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga yang diprediksi tumbuh lima persen.

Konsumsi rumah tangga, kata Josua, diindikasikan dari impor barang konsumsi yang tumbuh 14,5 persen atau meningkat dari kuartal I yang tercatat 4,8 persen. Selain itu, pertumbuhan uang beredar menunjukkan tren peningkatan dari 14,2 persen pada kuartal sebelumnya menjadi 17,8 persen pada kuartal II-2017.

Selain itu, konsumsi rumah tangga tercermin seperti penjualan ritel dan indeks kepercayaan konsumen pada kuartal II secara rata-rata meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, data penjualan otomotif pada kuartal II melambat yakni penjualan mobil -5,6 persen dari kuartal sebelumnya 6,2 persen.

Sementara laju penjualan motor tercatat -10,9 dari kuartal sebelumnya -6,8 persen. "Peningkatan konsumsi rumah tangga meskipun terbatas, masih dipengaruhi oleh faktor musiman Idulfitri serta liburan sekolah pada akhir kuartal II," kata Josua.

Tak hanya konsumsi rumah tangga, kinerja ekonomi juga didorong oleh konsumsi pemerintah yang terindikasi dari penyaluran bantuan pangan nontunai pemerintah pada Juni. Selain itu, konsumsi pemerintah masih ditopang oleh akselerasi belanja pemerintah, dengan peningkatan belanja pegawai dan belanja barang yang signifikan.

Selain konsumsi rumah tangga dan pemerintah, investasi/PMTB pada kuartal II diperkirakan masih tumbuh positif namun melambat dari kuartal sebelumnya terindikasi dari penjualan semen yang terkontraksi -1,2 petsen dari sebelumnya 2,0 persen.

Sementara impor barang modal pada kuartal II juga tumbuh terkontraksi -2,3 persen dari kuartal sebelumnya 6,5 persen. Pertumbuhan ekspor pada kuartal II diperkirakan sedikit melemah terindikasi dari kinerja pertumbuhan ekspor nonmigas yang melambat menjadi 6,8 persen dari kuartal sebelumnya yang tumbuh 21,8 persen.

Dari sisi sektoral, sektor manufaktur kata Josua memang masih berkontribusi paling besar pada perekonomian Indonesia, namun pertumbuhan sektor pengolahan diperkirakan masih sekitar 4-5 persen, di mana laju pertumbuhan diperkirakan masih lebih rendah dibandingkan sektor jasa seperti informasi komunikasi dan jasa keuangan.

"Namun demikian, kontribusi dari kedua sektor tersebut relatif kecil yakni di bawah lima persen dari perekonomian," tutur dia.

Sementara itu, Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II berada pada level 5,05 persen. Diakui Bhima momentum Lebaran tidak bisa mendongkrak konsumsi rumah tangga secara signifikan.

Indikator lainnya adalah lesunya penjualan ritel. Pertumbuhan indeks penjualan riil Bank Indonesia per Mei  tumbuh 4, persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan bulan Mei tahun sebelumnya sebesar 13,6 persen.

"Dari sisi industri manufaktur diprediksi masih tumbuh terbatas dibawah 4,5 persen. Diharapkan ada dorongan pertumbuhan dari sisi investasi dan ekspor nonmigas," pungkas Bhima.

 


(ABD)