Defisit Keseimbangan Primer Mengecil

Suci Sedya Utami    •    Kamis, 13 Jul 2017 21:08 WIB
defisit anggaran
Defisit Keseimbangan Primer Mengecil
Menkeu Sri Mulyani. ANTARA FOTO/Agung Rajasa.

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan pemerintah terus berupaya untuk menjaga pengelolaan utang pemerintah yang selama ini menjadi pembicaraan di masayarakat.

Dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR, Ani sapaan akrabnya menyampaikan dirinya selalu berhati-hati dalam mengelola pembiayaan yang berasal dari penerbitan surat utang. Ani pun mengklaim dirinya mampu melaksanakan tugas tersebut dengan menjaga utang dalam batas yang wajar.

baca : Kebijakan Defisit Anggaran Jadi Andalan Pemerintah

Hal ini ditandai dengan capaian defisit keseimbangan primer (primary balance) sepanjang semester I 2017 yang tercatat Rp68,2 triliun dari terget Rp189 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, angka ini mengecil. Semester I 2016 capaian defisit keseimbangan primer Rp143,4 triliun.

Defisit keseimbangan primer menandakan adanya pinjaman atau utang yang digunakan untuk membayar bunga utang yang jatuh tempo pada tahun tersebut. Sehingga, ibarat gali lubang tutup lubang, utang pemerintah digunakan untuk membayar atau mencicil utang di masa lalu, atau bukan digunakan untuk kegiatan produktif.

"Jadi ini menunjukkan bahwa kami memperbaiki APBN tanpa membebani ekonomi, arahnya telah benar dan akan terus dijalankan," kata Ani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis 13 Juli 2017.

Selain itu, capaian defisit APBN pada semester I tercatat 1,29 persen dari target 2,41 persendari produk domestik bruto (PDB) atau lebih kecil dari periode yang sama tahun lalu 1,82 persen.

Hal tersebut, kata Ani, sejalan dengan penerbitan surat berharga negara (SBN) secara netto yang pada semester I yang tumbuh minus 23,3 persen dibanding dengan penerbitan SBN netto semester I tahun lalu yang tumbuh 34 persen.

"Jadi kami menerbitkan jauh lebih kecil dibanding semester I tahun lalu," jelas Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

 


(SAW)