Pemerintah Diminta Ingatkan Kesalahan IMF saat Krisis 1998

Desi Angriani    •    Senin, 12 Mar 2018 12:39 WIB
imfkrisis ekonomiimf-world bank
Pemerintah Diminta Ingatkan Kesalahan IMF saat Krisis 1998
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Pemerintah dalam sidang pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) dan Word Bank (WB) pada Oktober 2018 diminta mengingatkan kembali luka lama Indonesia saat krisis ekonomi 1998. Lembaga pendanaan internasional ini disebut telah memberikan obat yang salah bagi perekonomian Indonesia kala itu.

Pengamat Ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Eko Siwardi mengatakan sebagai tuan rumah, Indonesia memiliki kendali untuk menyampaikan pesan mengenai kesalahan-kesalahan IMF di masa lalu terhadap negara-negara berkembang.

"Kita paling tidak harus menyampaikan pesan bahwa dulu treatment IMF ke kita salah dan itu diakui oleh ekonom mereka. Mereka tidak terlalu benar ke Indonesia dan negara Karibia," katanya dalam focus grup discussion bertema 'Menakar Kesiapan Indonesia Melaksanakan Annual Meetings IMF-WB 2018', di Gedung Metro TV, Kedoya, Jakarta, Senin, 12 Maret 2018.

Meski demikian, pemerintah diminta tetap memperhatikan etika diplomasi internasional dalam menyampaikan hal tersebut. Di samping itu, Eko meminta pemerintah untuk mendorong IMF mengubah kebijakannya yang justru mempersulit seperti pencabutan subsidi, privatisasi, perdagangan bebas, dan pembatasan intervensi negara dalam ranah ekonomi.

"Kita harus buktikan apakah akan jadi kebijakan baru, kita sudah menjadi anggota dan jadi pasien betapa sakitnya. Justru kebijakan selama ini yang diterapkan kreditur mempersulit negara berkembang dan Indonesia harus mengingatkan saat pertemuan ini," tutur dia.

Peneliti Senior Ecosoc Institute Sri Palupi menambahkan IMF telah melakukan kesalahan di berbagai negara mulai dari 1998, 2004, 2013, dan 2016. Kesalahan lembaga keuangan internasional itu karena menerapkan resep serupa di tiap negara yang memiliki kondisi berbeda.

"IMF sudah mengakui kegagalannya dan ideologi yang dia jalankan itu sangat jelas lalu apa yang bisa diharapkan dari sebuah lembaga yang mengakui mengakui kegagalannya," tambah dia.

Sementara itu, Ekonom Senior Universitas Gajah Mada (UGM) Tony Prasetiantono mengatakan momen annual meetings IMF-WB harus menjadi pembuktian bahwa Indonesia mampu tumbuh dengan baik.

"Ini pengakuan kesalahan terbesar IMF men-treatment kita dengan salah, enggak mungkin negara jelek yang jadi tuan rumah dan juga kemampuan mengorganisasi," tegas Tony.

 


(AHL)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

6 hours Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA