Perbedaan Kondisi Sektor Keuangan di Era Krisis 97/98 dan Sekarang

Suci Sedya Utami    •    Rabu, 01 Nov 2017 05:31 WIB
keuanganindustri keuanganpasar keuangankssk
Perbedaan Kondisi Sektor Keuangan di Era Krisis 97/98 dan Sekarang
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Metrotvnews.com, Jakarta: Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan kondisi sektor keuangan Indonesia saat ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan pada saat terjadinya krisis di 1997-1998. Dalam hal ini, pemerintah terus berupaya agar sektor jasa keuangan terus berada dalam kondisi yang sehat.

Ketua KSSK, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pada saat terjadinya krisis di 10 tahun lalu, yang menjadi trigger atau penggeraknya adalah Neraca Pembayaran Indonesia (NPI).

Dia menjelaskan pada saat itu, negara-negara berkembang terutama yang ada di Asia yang akhirnya menyeret Indonesia, relatif memiliki nilai tukar yang tidak fleksibel dan juga aliran modal yang bergerak bebas.

Ketika itu, negara-negara ini mengalami ketidaksinkronan antara nilai tukar dan juga adanya aliran modal yang berasal dari modal langsung maupun dari sketor perdagangan. Ketidaksinkronan tersebut, kata Ani, biasa ia disapa, menimbulkan spekulasi sehingga mempengaruhi pergerakan nilai tukar secara drastis.

Risiko tersebut saat ini sudah menjadi pembelajaran yang sangat berharga dan banyak negara mengubah kebijakan mengenai neraca pembayaran, dan akhirnya memberlakukan nilai tukar yang lebih fleksibel. Aliran modal dimonitor dan neraca dari masing-masing usaha dilihat baik koorporasi, sektor keuangan, pemerintah, maupun Bank Indonesia menjadi satu kesatuan yang harus dipantau.

"Sekarang ini di dalam surveillance semua neraca dilihat, koorporasi, sektor keuangan, pemerintah dan bank sentral  semua neraca dilihat sehingga kita bisa lakukan deteksi lebih baik," kata Ani, dalam konferensi pers triwulanan KSSK, di Kantor Pusat Ditjen Pajak, Jakarta Selatan, Selasa malam 31 Oktober 2017.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota KSSK, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK-OJK) Wimboh Santoso mengatakan, saat ini aturan prudensial jauh lebih baik dibandingkan dengan saat krisis dulu yang bahkan dinilai terlambat dikeluarkan.

Wimboh mengatakan, banyak komponen di industri keuangan yang bisa dianggap lebih memberikan nilai postif dan mengindikasikan kondisi yang sehat, salah satunya kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) yang saat ini posisinya 2,93 persen. Sedangkan pada saat ktisis berada jauh di atas angka tersebut.

Selain itu, modal perbankan secara gradual mengalami kenaikan dari 2014 yaitu 19,57 persen; 2015 yaitu 21,3 persen; 2016 yaitu 22,9 persen, dan September 2017 yaitu 23,27 persen. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sudah 11,69 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kredit 7,86 persen.

"Dengan kondisi ini kami yakin sektor keuangan di perbankan cukup kuat, dibandingkan dengan krisis 1997-1998 sekarang kita sudah punya tracking yang lebih baik, koordinasi yang lebih baik lagi sehingga kalau ada potensi risiko lebih mudah dimitigasi," tutup Wimboh.


(ABD)