Lembong Sebut Situasi Politik tak Hambat Investasi

Desi Angriani    •    Selasa, 14 Aug 2018 13:43 WIB
investasibkpm
Lembong Sebut Situasi Politik tak Hambat Investasi
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyatakan situasi politik dalam negeri bukan faktor yang menghalangi pertumbuhan investasi. Rendahnya realisasi investasi beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar rupiah serta  perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

"Bukan politik yang ganggu investasi, tapi pelemahan kurs dan kebijakan negara berkembang terhadap investasi," ucap Lembong dalam sebuah jumpa pers di Jakarta, Selasa, 14 Agustus 2018.

Menurutnya, stabilitas politik di Tanah Air justru memberikan sentimen positif terhadap investasi jika dibandingkan dengan negara maju dan negara berkembang lainnya. Namun para investor masih cenderung wait and see menjelang Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.

"Saat ini aspek politik adalah sebuah aspek positif, berdampak positif pada sentimen investasi apalagi dibandingkan negara lain," imbuh dia.

Selain ketidakpastian global, kebijakan investasi di negara berkembang juga turut memengaruhi rendahnya pertumbuhan investasi. Sebab itu, Lembong memastikan pemerintah akan lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan yang berujung pada sentimen negatif di pasar keuangan.

"Perlu saya akui bahwa policy blunder masih terjadi meskipun sudah berkurang banyak dibanding tahun sebelumnya tapi kita harus ekstra waspada menjaga atau mencegah terjadinya policy blunder atau keserakahan," pungkas dia.

Realisasi investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) periode triwulan II -2018 tumbuh melambat 3,1 persen atau sebesar Rp176,3 triliun. Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan realisasi investasi periode yang sama tahun lalu sebesar 11,8 persen.

Dari jumlah tersebut, PMDN tercatat sebesar Rp80,6 triliun atau naik 32,1 persen dari Rp61,0 triliun pada periode yang sama 2017, dan PMA sebesar Rp95,7 triliun, turun 12,9 persen dari Rp109,9 triliun pada periode yang sama 2017.

 


(AHL)