Penerbitan Surat Utang saat Ini Berisiko Lebih Tinggi

Desi Angriani    •    Selasa, 11 Jul 2017 17:23 WIB
surat utang
Penerbitan Surat Utang saat Ini Berisiko Lebih Tinggi
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara. (Foto: MTVN/Desi Angriani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terus mencermati risiko penerbitan surat utang negara di tengah ketidakpastian global saat ini.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara mengatakan, pemerintah akan terpapar risiko cukup tinggi lantaran harus membayar beban bunga utang yang lebih tinggi. Pasalnya, investor kerap menunggu waktu yang untuk membeli surat utang.

"Kalau misalkan mengeluarkan utang sekarang, kondisi dunia lagi volatile, kita akan terpapar kepada risiko yang lebih tinggi, bunga kita harus bayar lebih tinggi karena investornya mikir uang ditahan dulu," kata Suahasil seusai menghadiri sidang Paripurna di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa 11 Juli 2017.

Menurutnya, pemerintah harus menunggu saat kondisi perekonomian global mulai membaik. Dengan begitu, penerbitan surat utang yang bersifat reguler maupun sporadik tak berdampak signifikan terhadap negara. Selain itu, pemerintah perlu mengurangi risiko dari kurs dengan meningkatkan utang di dalam mata uang rupiah kendari sekarang ini sudah cukup mayoritas komposisinya di dalam total utang.

"Lihat kapan nih kondisi globalnya. bu menkeu banggar selalu dimulai kondisi globalnya atau melihat tantangan. kalo melihat tantangan, ada imbas ke budget , jadi mesti di manage waktu mata uang, besaran yang kita terbitkan," ungkap dia.

Kendati jumlah utang yang diambil RI tahun ini mencapai 28 persen terhadap Produk Domestik (PDB),  Suahasil menyebut pemerintah masih mampu membayarnya.

Ditambahkannya, jumlah beban utang Indonesia saat ini  tidak bisa ditentukan karena tingkat bunga berbeda-beda tergantung waktu penerbitan dan jenis mata uang. Namun, mayoritas penerbitan utang pemerintah dalam mata uang rupiah sekitar 55-60 persen.

"Jadi tidak terpapar oleh kurs karena sebagian besar (penerbitan utang) dalam mata uang rupiah. Seperti (utang dalam mata uang euro), dari waktu ke waktu ekonomi bergejolak. Jadi bisa pinjam euro, ada saatnya lagi murah, pinjam dolar murah. Jadi ini bagian dari pengelolaan utang kita," tandasnya.

 


(AHL)

<i>Tender Offer</i> Persero dan <i>Holding</i> BUMN

Tender Offer Persero dan Holding BUMN

13 hours Ago

PRESIDEN Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2017 tentang Pena…

BERITA LAINNYA