Investor asal Tiongkok Tanamkan Investasi Rp50 Miliar di Pulau Batam

Anwar Sadat Guna    •    Rabu, 09 May 2018 20:13 WIB
investasi di batam
Investor asal Tiongkok Tanamkan Investasi Rp50 Miliar di Pulau Batam
Anggota 2/Deputi Bidang Perencanaan dan Pengembangan BP Batam, Yusmar Anggadinata menyerahkan dokumen i23J kepada Direktur PT King Shining Industri, didampingi Ketua Umum Kadin Kepri di Mall Pelayanan Publik (MPP) Batam. (FOTO: Medcom.ic/Anwar)

Batam: Investor asing yang masuk ke Batam pada 2018 mulai berdatangan. Kali ini, PT King Shining Industri resmi menanamkan investasinya di Batam dengan nilai investasi tahap awal Rp50 miliar.

Sebagai bentuk komitmennya berinvestasi di Batam, perusahaan ini langsung memanfaatkan fasilitas Izin Investasi 3 Jam (i23J) di Mall Pelayanan Publik (MPP) Kota Batam.

"Komitmen investasi di Batam dibuktikan langsung oleh PT King Shining Industri dengan mengurus i23J. Semua perizinan investasi selesai dalam waktu tiga jam," ungkap Anggota 2/Deputi Bidang Perencanaan dan Pengembangan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Yusmar Anggadinata, Rabu, 9 Mei 2018.

Investasi yang dilakukan perusahaan asal Tiongkok tersebut merupakan hasil kunjungan promosi investasi yang dilakukan BP Batam bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri di Shanghai, Tiongkok, belum lama ini.

Yusmar mengatakan, dalam kunjungan ke Shanghai, BP Batam dan Kadin Kepri bertemu dengan beberapa investor sekaligus menawarkan program i23J untuk berinvestasi di Batam.

"Tahap awal, perusahaan ini menanamkan investasinya sebesar Rp50 miliar. Selanjutnya di tahap kedua, PT King Shining Industri akan menambah investasinya sebesar Rp100 miliar," ujarnya.

Perusahaan ini bergerak di bidang pembuatan sol sepatu dan akan menempati lahan produksi di kawasan Wiraraja Industrial Estate, Kabil, Kota Batam. Tahap awal, PT King Shining Industri menargetkan memproduksi 30 ribu ton sol sepatu.

Ketua Umum Kadin Kepri Akhmad Maruf Maulana mengapresiasi investasi yang dilakukan PT King Shining Industri di Pulau Batam. Investasi tersebut tak lepas dari upaya BP Batam bersama Kadin Kepri untuk menggaet investor asing masuk ke Batam.

"Setelah menerima dokumen i23J dari BP Batam, perusahaan ini segera mendatangkan mesin-mesin produksinya. Sekitar tiga bulan lagi, PT King Shining Industri sudah beroperasi di Batam," ujar Maruf, Rabu, 9 Mei 2018.

Presiden Direktur Wiraraja Group ini menambahkan, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk tahap awal sebanyak 200 orang. Seluruh tenaga kerja yang akan direkrut adalah tenaga kerja lokal.

Selain investor asal Tiongkok, tambah Maruf, dalam beberapa pekan ke depan akan datang investor asing lainnya untuk berinvestasi di Batam. Di antaranya, investor asal Amerika yang akan memproduksi konstruksi chip IC.

"Perusahaan asal Amerika itu akan menempati lahan seluas 10 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp1 triliun. Dalam waktu dekat akan masuk ke Batam dan memanfaatkan fasilitas i23J," ujarnya.

Setelah itu, sambung Maruf, akan menyusul kemudian investor dari Korea dan Jepang. Investor dari kedua negara tersebut juga telah menyatakan ketertarikanya berinvestasi di Pulau Batam.

"Kedatangan para investor ke Batam merupakan hasil kunjungan promosi investasi yang kami lakukan bersama BP Batam di Shanghai, pekan lalu. Kami menyampaikan keistimewaan dan keunggulan yang dimiliki Batam kepada para investor dan banyak di antara mereka tertarik berinvestasi di Batam," paparnya. 

Ketertarikan para investor tersebut, tambah Maruf, tak lepas dari status perdagangan bebas dan pelabuhan bebas atau Free Trade Zone (FTZ) yang disandang Batam.

Pihaknya berharap agar pemerintah tetap konsisten untuk mempertahankan status FTZ Batam sesuai amanah undang-undang berlaku selama 70 tahun.

"Status FTZ Batam baru separuh jalan yakni 15 tahun sehingga status ini masih sangat dibutuhkan untuk meningkatkan investasi dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi di Batam," pungkasnya.

Sekadar diketahui, Tiongkok adalah negara kedua terbanyak jumlah proyek investasi di Batam dengan dengan perusahaan dan total investasi pada 2017 mencapai 20,17 juta dolar Amerika Serikat.


(AHL)


Merpati akan Beroperasi Lagi 2019

Merpati akan Beroperasi Lagi 2019

7 hours Ago

PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) yang sejak 1 Februari 2014 berhenti beroperasi akibat k…

BERITA LAINNYA