Pemerintah Ajak Investor Beli SBN di Awal 2019

Nia Deviyana    •    Selasa, 11 Dec 2018 23:53 WIB
surat berharga negara
Pemerintah Ajak Investor Beli SBN di Awal 2019
Illustrasi. Dok : Medcom.

Jakarta: Direktorat Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementrian Keuangan mengatakan pemerintah masih akan menerapkan strategi front loading dalam menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN).

Dengan melakukan front loading, pemerintah menerbitkan SBN di awal tahun dengan jumlah yang cukup banyak. Dengan demikian, penerbitan utang hingga akhir tahun menjadi lebih sedikit. Strategi ini dianggap menguntungkan Pemerintah dalam mengantisipasi ketidakpastian di akhir tahun.

Melihat strategi tersebut, Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting mengajak investor untuk segera membeli SBN di awal tahun.

"Beli sejak awal, jangan ditunda. Kalau kami tutup, bapak dan ibu jangan complain di akhir tahun. Kalau sudah perlu, beli duluan, dari pada nanti tidak kebagian," ujar Loto di Gedunh Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa, 11 Desember 2018.

Loto memaparkan, tidak menutup kemungkinan hal yang sama pada tahun ini terulang di mana pemerintah membatalkan sisa lelang dua SBN.

Pada kesempatan yang sama, Loto mengajak investor lokal untuk menguasai pasar instrumen Surat Berharga Negara (SBN) pada tahun depan.

"Seharusnya investor lokal yang setia terhadap SBN, karena kita mengenal negara kita, kita yang mengenal dana-dana yang dikeluarkan APBN untuk apa saja, kita mengenal daerah mana yang memerlukan pembiayaan pemerintah, sehingga kita juga yang seharusnya berperan penting dalam pembiayaan APBN," kata dia.

Loto memaparkan, DJPPR akan meningkatkan jumlah penerbitan instrumen SBN ritel menjadi 10 persen, dari tahun ini yang hanya lima persen. Adapun kebutuhan bruto penerbitan SBN pada tahun depan akan mencapai Rp825,7 triliun, di mana sebesar Rp661 triliun akan dipenuhi dari emisi SBN domestik an Rp165 triliun dari SBN valas.

Untuk SBN domestik, kata Loto, sebesar 74-76 persen akan dipenuhi dari 48 kali lelang yang terdiri dari 24 kali lelang SUN dan 24 kali lelang Sukuk Negara. Sementara 9-10 persen berasal dari non lelang. Pada SBN domestik, penerbitan di semester pertama diproyeksikan mencapai 52 persen

 


(SAW)