Ekonomi Indonesia 2016

BI Sambut Baik Hasil Penilaian Awal Tim IMF

Angga Bratadharma    •    Selasa, 29 Nov 2016 12:45 WIB
bank indonesiaekonomi indonesia
BI Sambut Baik Hasil Penilaian Awal Tim IMF
Logo Bank Indonesia di Komplek Kantor Bank Indonesia (MI/ROMMY PUJIANTO)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyambut baik hasil penilaian awal Tim Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) atas ekonomi Indonesia di 2016, yang dimuat dalam laporan hasil asesmen konsultasi tahunan IMF. Diharapkan perekonomian Indonesia bisa terus pulih dan nantinya tumbuh berkualitas secara maksimal.

Secara garis besar, Tim IMF menyampaikan bahwa kinerja perekonomian Indonesia tetap dalam kondisi baik, didukung oleh bauran kebijakan makroekonomi dan reformasi struktural yang sehat. Otoritas mampu mengelola perekonomian dengan baik di tengah dinamika perubahan kondisi perekonomian global.

"Pertumbuhan ekonomi tetap kuat, inflasi telah menurun signifikan, dan defisit transaksi berjalan tetap terjaga. Semua pencapaian ini mendukung outlook perekonomian yang positif," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, seperti dikutip dari laman resmi BI, Selasa (29/11/2016).

Baca: BI Dorong Perkembangan UMKM di Aceh

Tim IMF yang dipimpin oleh Luis E. Breuer telah mengunjungi Indonesia pada tanggal 7 hingga 18 November 2016. Article IV Consultation IMF merupakan bagian dari aktivitas monitoring (surveillance) IMF yang dilakukan satu kali dalam setiap tahun terhadap setiap negara anggota.

Baca: BI Malut Motivasi Pelaku Bisnis dan UMKM

Tim bertukar pandangan dengan pemerintah, BI, dan lembaga publik lainnya, serta perwakilan dari sektor swasta, akademisi, dan mahasiswa tentang perkembangan ekonomi dan pasar keuangan terkini dan prospek jangka pendek-menengah.


Logo IMF (REUTERS/Yuri Gripas)

Selanjutnya, Tim IMF menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi 2016 diperkirakan sebesar 5,0 persen terutama didorong konsumsi swasta yang kuat. Di 2017 pertumbuhan diperkirakan sebesar 5,1 persen, didorong konsumsi swasta dan investasi swasta yang perlahan membaik sebagai respons atas membaiknya harga komoditas dan tingkat suku bunga yang lebih rendah.

Inflasi diperkirakan meningkat dari 3,3 persen pada 2016 menjadi sedikit di atas nilai tengah kisaran target 3-5 persen pada akhir 2017, terutama dampak alokasi subsidi listrik yang lebih baik. Defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat dari dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2016 menjadi 2,3 persen dari PDB pada tahun yang akan datang.

Baca: BI Optimistis Ekonomi Bali Menggeliat di Kuartal IV-2016

Logo Bank Indonesia di Kompleks Kantor Bank Indonesia (MI/ROMMY PUJIANTO)

Risiko yang dihadapi utamanya muncul dari eksternal, yang bersumber dari ketidakpastian mengenai kebijakan pemerintah baru Amerika Serikat, kondisi keuangan global yang lebih ketat, pertumbuhan Tiongkok yang lebih lemah dibanding perkiraan, pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat di Amerika Serikat, dan kembali menurunnya harga komoditas.


"Risiko domestik meliputi bantalan fiskal (fiscal buffer) yang lebih rendah, yang mencerminkan penurunan penerimaan pajak atau tingginya tingkat bunga di tengah kondisi keuangan global yang lebih ketat," tuturnya.

Baca: Pergantian SBI ke SBN Bakal Lebih Produktif

Strategi fiskal pemerintah, dengan memperluas basis pendapatan dan meningkatkan pengeluaran yang mampu mendukung pertumbuhan dengan tetap memelihara defisit agar berada dalam fiscal rule sebesar tiga PDB dianggap akan mendukung stabilitas dan pertumbuhan yang inklusif dalam jangka menengah.

Baca: Tak Digunakan, BI Tarik Uang Logam di Maluku Utara

"Otoritas fiskal juga telah memulai konsolidasi fiskal secara bertahap. Revisi anggaran 2016 yang telah disetujui DPR pada Agustus yang lalu telah mencakup proyeksi pendapatan dan juga pengeluaran yang lebih sehat dengan tetap menjamin prioritas pengeluaran pemerintah. Namun, lemahnya pendapatan pajak dapat tetap menjadi kendala bagi pemerintah," pungkasnya.

 


(ABD)