Neraca Perdagangan Indonesia Catat Surplus USD4,5 Miliar di Kuartal I-2017

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 12 May 2017 19:06 WIB
neraca perdagangan indonesia
Neraca Perdagangan Indonesia Catat Surplus USD4,5 Miliar di Kuartal I-2017
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) berlanjut pada kuartal I-2017, ditopang oleh tingginya surplus transaksi modal dan finansial yang melampaui defisit transaksi berjalan.

Surplus NPI tercatat sebesar USD4,5 miliar, relatif sama dengan surplus yang tercatat pada kuartal sebelumnya, atau berkebalikan dengan kondisi pada kuartal yang sama pada 2016 yang mengalami defisit sebesar USD0,3 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, surplus NPI tersebut pada gilirannya mendorong peningkatan posisi cadangan devisa dari USD116,4 miliar pada akhir kuartal IV-2016 menjadi USD121,8 miliar pada akhir kuartal I-2017.

Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 8,6 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional.

"Meningkatnya surplus transaksi modal dan finansial sejalan dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian," kata dia dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat 12 Mei 2017.

Surplus transaksi modal dan finansial pada kuartal I-2017 mencapai USD7,9 miliar, lebih besar dibandingkan dengan surplus pada kuartal IV-2016 yang sebesar USD7,6 miliar maupun surplus pada kuartal I 2016 yang sebesar USD4,2 miliar.

Peningkatan ini terutama didorong oleh derasnya aliran masuk modal investasi portofolio pada instrumen berdenominasi rupiah misal SUN, SPN, dan saham dan adanya penerbitan sukuk global pemerintah.

"Peningkatan surplus transaksi modal dan finansial lebih lanjut tertahan oleh penurunan surplus investasi langsung, terutama karena outflow investasi langsung sektor migas, dan defisit investasi lainnya khususnya karena penempatan aset sektor swasta di luar negeri," jelas dia.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan mengalami peningkatan didorong oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan migas dan pendapatan primer. Defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2017 tercatat sebesar USD2,4 miliar atau 1,0 persen PDB, meningkat dari USD2,1 miliar atau 0,9 persen PDB pada kuartal IV-2016, namun jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan defisit pada kuartal I 2016 yang sebesar USD4,7 miliar atau 2,1 persen PDB.

"Peningkatan defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2017 terutama akibat naiknya defisit neraca perdagangan migas dan pendapatan primer. Peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi oleh naiknya harga minyak dunia di tengah penurunan lifting minyak, sementara kenaikan defisit neraca pendapatan primer mengikuti jadwal pembayaran bunga surat utang pemerintah yang lebih tinggi dan meningkatnya pembayaran pendapatan investasi langsung," jelas Tirta.

Dirinya menambahkan, peningkatan defisit transaksi berjalan lebih lanjut tertahan oleh kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas yang ditopang meningkatnya ekspor nonmigas sejalan dengan berlanjutnya kenaikan harga komoditas dan menurunnya defisit neraca jasa terutama karena naiknya surplus jasa perjalanan.

Lebih lanjut, perkembangan NPI pada kuartal I-2017 secara keseluruhan menunjukkan terpeliharanya keseimbangan eksternal perekonomian sehingga turut menopang berlanjutnya stabilitas makroekonomi. BI akan terus mewaspadai perkembangan global, khususnya risiko terkait kebijakan bank sentral AS dan faktor geopolitik, yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan.

"Bank Indonesia meyakini kinerja NPI akan semakin baik didukung bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, khususnya dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural," pungkasnya.


(AHL)