Alami Kinerja Terbaik

BI: Pelemahan Rupiah Turun dari 3,2% ke 2,94%

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 05 Jun 2018 15:45 WIB
bank indonesiarupiah melemahkurs rupiah
BI: Pelemahan Rupiah Turun dari 3,2% ke 2,94%
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mulai menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara year to date (ytd), depresiasi rupiah turun dari sebelumnya 3,2 persen menjadi 2,94 persen.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan apresiasi rupiah tak lepas dari langkah bank sentral yang menaikkan suku bunga acuan. Selama bulan lalu, BI dua kali menaikkan BI 7 Day Reverse Repo rate masing-masing 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen.

"Jadi karena terjadi apresiasi selama 10 hari terakhir ini dan kita mengalami the best performance. Kinerja nilai tukar kita paling baik termasuk di Asia selama 10 hari ini," kata Dody, ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Selasa, 5 Juni 2018.

Dirinya menambahkan perbaikan ini juga dipengaruhi oleh membaiknya sentimen terhadap nilai tukar rupiah. Sementara itu, pondasi ekonomi Indonesia dinilai masih cukup baik terlihat dari inflasi dan defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD).



"Kita melihat ini adalah perbaikan sentimen. Untuk fundamental sebetulnya tidak ada perubahan dibandingkan dengan bulan lalu atau dua bulan yang lalu. Artinya inflasi pun pada data terakhir 3,21 (yoy). Artinya masih sesuai dengan target kita," jelas dia.

Dody memastikan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia masih cukup baik. Selain itu bank sentral akan menerapkan kebijakan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve untuk mengantisipasi berbagai risiko yang muncul kedepannya.

"Kalau kita meyakini risiko yang ada bisa dimitigasi. Kita yakinkan, karena BI keluar dengan kebijakan yang front loading kemudian kebijakan yang pre-emptive, dan juga ahead the curve. Itu kan gambaran bahwa oke saya meyakini akan ada mitigasi dari risiko-risiko yang muncul," pungkasnya.

 


(ABD)