ADB Nilai Fundamen Indonesia Kuat

   •    Kamis, 27 Sep 2018 11:40 WIB
ekonomi indonesiaadb
ADB Nilai Fundamen Indonesia Kuat
Ilustrasi. (FOTO: MI/Atet)

Jakarta: Publikasi terbaru dari Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan fundamen yang kuat dapat menjaga kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 dan 2019 dari berbagai tantangan global.

"Meski lingkungan global cukup berat, perekonomian Indonesia diproyeksikan masih tumbuh dengan baik tahun ini dan tahun depan," kata Kepala Perwakilan ADB di Indonesia Winfried Wicklein dalam jumpa pers publikasi Asian Development Outlook di Jakarta, Rabu, 26 September 2018.

Wicklein menambahkan pertumbuhan ekonomi ini didukung inflasi yang masih terkendali karena posisi fiskal yang terkelola dengan baik dan sejumlah langkah kebijakan yang telah diambil.

Menurut dia, Indonesia telah memiliki kebijakan fiskal yang berhati-hati dengan defisit anggaran masih terjaga rendah dan rasio utang pemerintah terjaga pada kisaran 30 persen terhadap PDB.

"Indonesia perlu melanjutkan langkah-langkah untuk mendorong prospek jangka menengah dan panjang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menguntungkan semua penduduk," kata Wicklein seperti dikutip dari Antara.

Laporan ini juga mengingatkan pentingnya kebijakan efektif untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan stabilitas untuk mengatasi ketidakpastian global akibat ketegangan perdagangan internasional dan pengetatan moneter di AS.

Dalam publikasi itu, ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018 mencapai 5,2 persen dan pada 2019 sebesar 5,3 persen.

Pengeluaran dari sisi rumah tangga diperkirakan tumbuh stabil karena ada kenaikan pendapatan yang didukung pertumbuhan lapangan kerja dan pengeluaran dari pemilu yang membantu terjadinya konsumsi.

Konsumsi rumah tangga ini juga terbantu oleh stabilitas harga, dengan perkiraan inflasi mencapai 3,4 persen di 2019 dan 3,5 persen pada 2019.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) diperkirakan bersiap meningkatkan suku bunga BI 7-days rate repo 25 hingga 50 basis poin. Keputusan itu akan diambil dalam Rapat Dewan Gubernur BI hari ini.

Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan kemungkinan besar BI akan turut menaikan bunga acuan 25 bps. Obat jangka pendeknya memang cuma suku bunga dan cadangan devisa. Kalau meperbaiki transaksi berjalan prosesnya lama dan akan jangka panjang," ujarnya.

Nilai tukar rupiah pun dia prediksi masih akan bearish atau melemah karena tekanan terus berlangsung sampai akhir tahun. Meski demikian rupiah pada perdagangan kemarin ditutup pada level Rp14.891 menguat tipis 0,06 persen. (Media Indonesia)

 


(AHL)