Langkah BI Hadapi Gejolak Nilai Tukar Rupiah

Suci Sedya Utami    •    Kamis, 10 May 2018 09:04 WIB
bank indonesiauangkurs rupiah
Langkah BI Hadapi Gejolak Nilai Tukar Rupiah
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) tengah mempersiapkan langkah untuk menghadapi gejolak yang terjadi pada nilai tukar rupiah. Adapun langkah pengendalian dengan instrumen moneter terus dilakukan secara konsisten demi menjaga stabilitas.

"Termasuk melalui penyesuaian suku bunga kebijakan BI 7-day Reverse Repo Rate dengan lebih memprioritaskan pada stabilisasi untuk memastikan keyakinan pasar dan kestabilan makroekonomi nasional tetap terjaga," kata Gubernur BI Agus Martowardojo, dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 10 Mei 2018.

Bank sentral menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir merupakan dampak dari menguatnya USD terhadap seluruh mata uang, sehubungan dengan semakin membaiknya ekonomi AS di tengah melambatnya pemulihan ekonomi di berbagai kawasan.

Namun, pelemahan mata uang Garuda masih lebih baik dibandingkan dengan negara lain. Depresiasi rupiah secara year to date (ytd) per 8 Mei 2018 mencapai 3,44 persen, sedangkan peso Filipina melemah 3,72 persen, rupee India 4,76 persen, real Brasil 6,83 persen, rubel Rusia 8,93 persen, dan lira Turki 11,51 persen.  



Bila dicermati, tekanan pada nilai tukar mata uang negara-negara maju lainnya juga besar.  Indonesia telah mengalami beberapa tekanan yang cukup besar seperti saat ini dalam lima tahun terakhir sejak the Fed melakukan program tapering off di 2013.

"BI meyakini Indonesia juga akan berhasil melewati tekanan saat ini dengan baik, dengan perekonomian yang tetap tumbuh berkesinambungan dan stabil," tutur Agus.

Kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia tercermin dari data realisasi pertumbuhan PDB kuartal IV-2017, serta pertumbuhan PDB kuartal I-2018 sebesar 5,06 persen (yoy), yang tetap stabil, kuat, dengan struktur ekonomi yang lebih baik. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2018 merupakan capaian tertinggi di pola musiman kuartal pertama sejak 2015.



"Permintaan domestik yang meningkat pada kuartal I-2018 juga didukung oleh investasi yang naik dan konsumsi swasta yang tetap kuat. Sementara itu, kestabilan inflasi tetap terjaga pada level rendah sesuai target plus minus 3,5 persen," ungkap Agus.

Lebih jauh, Agus menyatakan, untuk menjaga kesinambungan pemulihan ekonomi maka otoritas moneter terus menempuh langkah-langkah stabilisasi yang diperlukan termasuk melanjutkan intervensi di pasar valuta asing secara terukur, stabilisasi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter valas dan rupiah.

"Termasuk membuka lelang forex swap untuk menjaga ketersediaan likuditas rupiah dan menstabilkan suku bunga di pasar uang untuk memastikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah terkelola dengan baik," pungkas Agus.

 


(ABD)


BUMN Siap Bersinergi Bangun Kemandirian Pesantren

BUMN Siap Bersinergi Bangun Kemandirian Pesantren

1 day Ago

Menteri BUMN Rini M Soemarno menyatakan perusahaan milik negara di Indonesia siap bersinergi me…

BERITA LAINNYA