Suku Bunga BI Diramal Tak Beranjak dari 6%

Husen Miftahudin    •    Kamis, 21 Feb 2019 12:04 WIB
bi ratesuku bungarepo
Suku Bunga BI Diramal Tak Beranjak dari 6%
Ilustrasi. (FOTO: Media Indonesia)

Jakarta: Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16-17 Februari 2019. Untuk bulan ini, bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan alias BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI 7-Days Repo Rate) di level enam persen.

"Bank Indonesia diperkirakan akan kembali mempertahankan suku bunga kebijakan di level 6,00 persen pada RDG bulan ini mempertimbangkan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil sehingga mendukung terkendalinya ekspektasi inflasi," kata ekonom Bank Permata Joshua Pardede kepada Medcom.id, Kamis, 21 Februari 2019.

Menurut Joshua, stabilitas nilai tukar rupiah turut ditopang ekspektasi stance kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve yang lebih dovish. Hal itu mempertimbangkan tren penurunan beberapa data ekonomi AS, seperti pertumbuhan penjualan ritel dan laju produksi industri yang melambat.

"Laju produksi industri yang melambat selanjutnya akan membatasi kenaikan inflasi kurang dari dua persen (target bank sentral AS)," ungkap dia.

Berdasarkan notulensi rapat dewan rapat kebijakan bank sentral AS, Federal Open Market Committee (FOMC), mayoritas anggota berpendapat bahwa The Fed berpotensi besar untuk mempertahankan suku bunga kebijakan. Kondisi tersebut lantaran mempertimbangkan ekonomi global yang cenderung melambat pada tahun ini.

"Sementara dari perspektif domestik, stance kebijakan moneter BI yang masih tight bias ditujukan untuk memastikan defisit transaksi berjalan mengecil ke arah minus 2,5 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) pada tahun ini," ujar Joshua.

Bulan lalu, Januari 2019, BI mempertahankan suku bunga acuan di level enam persen. Keputusan tersebut diambil sejalan dengan upaya untuk menurunkan defisit transaksi berjalan serta menjaga imbal hasil aset keuangan dalam negeri.

Level serupa (enam persen) untuk suku bunga acuan, sudah bertahan sejak November 2018. Kebijakan The Fed yang lebih 'smooth' jadi pemicu BI enggan mengerek atau menyeret suku bunga acuan.

Ekonom Destri Damayanti pernah menyebutkan, suku bunga acuan di level enam persen merupakan posisi yang ideal bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, era suku bunga yang tinggi menyiratkan bahwa Indonesia tengah menuju kondisi normal yang baru atau new normal era.

Di sisi lain, lanjut Destri, perkiraan penaikan suku bunga acuan the Fed sebanyak dua kali pada 2019 menjadi angin segar bagi Indonesia. Sebab, kondisi tersebut secara tidak langsung membawa dampak positif bagi pasar keuangan lantaran imbal hasil AS tak jauh berbeda dengan Indonesia.

Berbeda dengan kondisi 2018. Di tahun itu, gejolak ekonomi global menyeret BI menaikkan suku bunga sebanyak enam kali. Dari Mei hingga Desember, suku bunga acuan naik 175 bps, dari 4,5 persen menjadi enam persen.


(AHL)