Penurunan Tarif PPh Bukan karena Ingin Perang Tarif dengan Singapura

Suci Sedya Utami    •    Kamis, 24 Nov 2016 16:44 WIB
pajak
Penurunan Tarif PPh Bukan karena Ingin Perang Tarif dengan Singapura
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengkaji penurunan tarif pajak penghasilan (PPh) badan seperti yang pernah disinggung Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Namun, jikalau harus menurunkan tarifnya, (Kemenkeu) tak ingin disebut bahwa alasannya karena untuk berkompetisi dalam isu perang tarif dengan negara lain seperi Singapura yang tarif pajaknya lebih rendah.

Baca: Dirjen Pajak Buka Peluang Turunkan Tarif PPh Badan ke 10%

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazahara mengatakan Indonesia memiliki kebutuhan pendanaan untuk membiayai pembangunan, terutama infrastruktur.

"Kami akan review dan telaah secara mendalam, kalau ada penurunan tarif bukan karena sedang berkompetisi dengan negara tetangga. Peta kita beda dengan negara lain, kita perlu pelabuhan, listrik, telekomunikasi, energi dan itu perlu investasi," tegas Suahasil saat memberikan keynote speech di sebuah acara di Hotel Westin, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (24/11/2016).




Jadi, kata dia, tujuannya memang betul-betul untuk pendanaan proyek yang tak bisa dipenuhi dari APBN. Namun, terlebih bukan hanya sekadar penurunan tarif, pihaknya berharap dengan insentif tersebut, kepatuhan pajak bisa meningkat lebih baik.

Dia mencontohkan, misalnya saja dari 300 juta wajib pajak yang memiliki nomor induk wajib pajak (NPWP), namun hanya 10 ribu yang mengembalian surat pemberitahunan (SPT) pajak tahunan, parahnya lagi drai jumlah tersebut hanya 9.000 yang jumlahnya tidak nihil.

"Kalau begitu adanya, kita mengalami isu yang besar dengan kepatuhan. Jadi kita mau kalau adanya penurunan, juga disertai dengan kepatuhan yang lebih baik," jelas dia.

Sebelumnya, Presiden Jokowi yang menginginkan agar tarif Pajak Penghasilan (PPh) badan bisa diturunkan dari 25 persen menjadi 17 persen.

 


(AHL)