Pertumbuhan Global Tertinggi Tahun Ini

   •    Kamis, 11 Jan 2018 12:19 WIB
bank duniaekonomi dunia
Pertumbuhan Global Tertinggi Tahun Ini
Ilustrasi Bank Dunia. (FOTO: Cairo Post)

Jakarta: Bank Dunia pada Selasa 9 Januari menaikkan perkiraan untuk pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 3,1 persen seiring dengan pemulihan berbasis luas sedang berlangsung di seluruh dunia. Perkiraan itu 0,2 persen lebih tinggi dari proyeksi pada Juni tahun lalu.

"2018 berada di jalur untuk menjadi tahun pertama sejak krisis keuangan, ketika ekonomi global akan beroperasi pada atau mendekati kapasitas penuh," kata Bank Dunia.

Diperkirakan bahwa pertumbuhan global mencapai 3,0 persen pada 2017, laju terkuat sejak 2011 dan pemulihan yang penting dari tingkat terendah pascakrisis 2,4 persen pada 2016. Namun, yang menarik, pertumbuhan global melambat menjadi 3,0 persen pada 2019 dari 3,1 persen pada 2018 dan turun lagi menjadi 2,9 persen pada 2020.

Menurut perkiraan Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju diperkirakan turun tipis menjadi 2,2 persen pada 2018 dari 2,3 persen di 2017 karena bank-bank sentral utama cenderung secara bertahap menarik diri dari kebijakan moneter yang akomodatif.

Sebagai gantinya, ekonomi AS diperkirakan tumbuh 2,3 persen pada 2017 dan meningkat menjadi 2,5 persen pada 2018.




Bank Dunia memperkirakan bahwa rancangan undang-undang pajak yang baru-baru ini disetujui Kongres AS diharapkan dapat meningkatkan investasi perusahaan karena rendahnya tarif pajak perusahaan dan pengeluaran penuh peralatan baru.

Namun, Bank Dunia memperingatkan bahwa manfaat stimulus fiskal mungkin akan terkendala karena ekonomi sudah mendekati kapasitas penuh dan laju normalisasi kebijakan moneter mungkin akan meningkat.

Negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang diperkirakan tumbuh 4,5 persen pada 2018, meningkat dari perkiraan kenaikan 4,3 persen di 2017. Tingkat pertumbuhan akan berlanjut lebih cepat menjadi 4,7 persen pada 2019 dan 2020.

Meski masih memegang pertumbuhan tertinggi, Tiong kok akan mengikuti jejak perekonomi AS. Setelah tumbuh 6,8 persen tahun lalu dan 6,4 persen tahun ini, ekonomi Tiongkok akan mengalami penurunan menjadi 6,3 persen pada 2019.

"Perekonomian Tiongkok terus membuat kemajuan dalam penyeimbangan kembali, dengan sektor konsumsi dan jasa mempertahankan pertumbuhan yang relatif cepat," kata Direktur Development Economic Prospects Group Bank Dunia, Ayhan Kose, sebagaimana dikutip dari Antara.




Peringatan Moody's

Laporan teranyar Moody's Investors Service terkait kondisi ekonomi Asia Pasifik (APAC) mengingatkan agenda pemilu berpotensi memperlambat momentum reformasi di berbagai negara bagian Asia Pasifik.

Moody's menggarisbawahi pesta demokrasi identik dengan tensi ketegangan politik yang tinggi sehingga dapat menghambat kebijakan.

Dalam menyikapi laporan itu, Menteri Keuangan Sri Mul-yani kembali menegaskan pemerintah fokus menjalankan kebijakan tanpa terdistraksi gejolak politik yang terjadi.

"Saya ingin menegaskan bahwa tahun ini pemerintah akan terdistraksi atau terganggu konsentrasinya dan tidak menjalankan berbagai prog-ram reformasi ambisiusnya, itu salah," tandasnya.

Senada, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara pun memastikan reformasi tetap berjalan. (Media Indonesia)


(AHL)