Ekonomi Indonesia Sejalan dengan Ekonomi Dunia

   •    Jumat, 10 Nov 2017 17:02 WIB
bappenasekonomi indonesia
Ekonomi Indonesia Sejalan dengan Ekonomi Dunia
Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. (FOTO: ANTARA/Fanny Octavianus)

Jakarta: Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai ekonomi Indonesia cocok atau compatible dengan ekonomi dunia yang terbukti dengan kinerja ekspor yang membaik ketika perekonomian dunia mulai pulih.

"Ketika konsumsi tumbuh lebih lambat dibandingkan sebelumnya, investasi, dan ekspor justru naik. Ekspor naik itu berarti kita kompatibel dengan dunia karena dunianya membaik sehingga ekspor kita ikut membaik baik harga maupun jumlah," ujar Bambang saat ditemui di Gedung Bappenas, Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Jumat 10 November 2017.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia menurut pengeluaran pada triwulan III-2017 tumbuh mencapai 5,06 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) yang peningkatannya didorong oleh semua komponen. Seluruh komponen PDB pengeluaran tumbuh positif. Pertumbuhan yang tertinggi adalah ekspor yaitu 17,27 persen. Investasi yang ditunjukkan dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 7,11 persen.

Sedangkan konsumsi Rumah Tangga (RT) tumbuh 4,93 persen. Serta konsumsi pemerintah paling rendah pertumbuhannya yaitu 3,46 persen. Menurut Bambang, dengan tumbuhnya ekspor dan investasi di tengah melambatnya konsumsi, menunjukkan ekonomi domestik yang lebih stabil.

"Jadi kita sudah punya pola yang menjaga kestabilan ekonomi. Dan menurut saya ekonomi kita punya resilience, jadi ketika dunia seperti apa, ia akan menyesuaikan dengan caranya sendiri," jelas Bambang.




Sebelumnya, ekonom senior dari Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyebut ekonomi Indonesia tidak compatible dengan ekonomi dunia. Ketika ekonomi dunia turun, ekonomi Indonesia juga turun tapi tidak signifikan.

Namun ketika ekonomi dunia mulai pulih, ekonomi Indonesia tidak serta merta pulih dan ada jeda waktunya. Ia juga menyebut ekonomi dunia berbasis industri, sedangkan ekonomi Indonesia berbasis komoditas. Industri manufaktur Indonesia dinilai perlu lebih didorong sehingga ketika ada pemulihan ekonomi dunia dapat dirasakan langsung dampaknya terhadap ekonomi dalam negeri.

Bambang menyebut industri manufaktur khusus nonmigas cukup lumayan yaitu tumbuh 5,2-5,3 persen, sedikit di atas pertumbuhan nasional. Namun, ia mengakui struktur ekonomi Indonesia memang belum ideal.

"Struktur ekonomi kita belum ideal  karena kita harusnya lebih mendorong manufaktur. Kemarin kan yang tumbuh tiinggi itu sektor konstruksi, bagus juga karena properti dan infrastruktur jalan. Manufaktur ini yang masih harus didorong supaya menjauh dari angka yang lima persen itu," pungkas Bambang.


(AHL)