Jamin Belanja di Awal 2018, Pemerintah Jokowi Prefunding USD4 Miliar

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 05 Dec 2017 15:42 WIB
anggaran kementerian
Jamin Belanja di Awal 2018, Pemerintah Jokowi <i>Prefunding</i> USD4 Miliar
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melakukan kegiatan prefunding demi menjamin ketersediaan anggaran untuk belanja pada awal 2018.

Prefunding merupakan penerbitan surat utang negara (SUN) yang dilakukan di tahun sebelumnya untuk kepentingan penganggaran di tahun berikutnya.

Prefunding dilakukan yakni dengan menerbitkan SUN berdenominasi valas asing sebesar USD4 miliar yang terdiri dari seri RI0123 dengan tenor lima tahun sebesar USD1 miliar, RI0128 tenor 10 tahun senilai USD1,25 miliar, dan RI148 dengan tenor 30 tahun senilai USD1,75 miliar.

Adapun jatuh tempo dari masing-masing seri yakni 11 Jauari 2023, 11 Januari 2028, dan 11 Januari 2048. Masing-masing seri memiliki tingkat kupon 2,95 persen, 3,500 persen, dan 4,350 persen, dengan yield masing-masing 3,00 persen, 3,550 persen, dan 4,400 persen, dengan price 99,769 persen, 99,582 persen dan 99,172 persen.

Dalam rilis yang dikeluarkan DJPPR, Selasa, 5 Desember 2017, penerbitan dilakukan pada 4 Desember 2017. Penerbitan ini memperoleh peringkat Baa3 dari Moody's, BBB- dari Standard & Poor's, dan BBB- dari Fitch.

Penerbitan SUN USD kali ini merupakan yang pertama kali dengan format SEC-Registered. Sebagai negara yang secara reguler menerbitkan SUN di pasar obligasi G3 Asia, SEC-Registered memberikan kesempatan pada pemerintah untuk dapat mengembangkan dan memperluas basis investor serta meningkatkan kepercayaan investor. Transaksi ini juga membuka kesempatan bagi pemerintah menyiapkan SEC-Registered shell untuk akses pasar yang lebih efisien di masa yang akan datang.

Berdasarkan wilayah, penerbitan ini setiap serinya terdistribusikan masing-masing di Eropa sebesar 25 persen, 22 persen dan 12 persen; Amerika Serikat 40 persen, 48 persen, dan 65 persen; Asia (tanpa Indonesia) 17 persen, 20 persen, dan 22 persen; serta Indonesia 14 persen, 10 persen, dan satu persen.

Berdasarkan jenis investor maka masing-masing seri yang didistribusikan di Asset Manager sebesar 54 persen, 47 persen, dan 59 persen; di bank 26 persen, 32 persen, dan 10 persen; di asuransi atau dana pensiun 10 persen, 19 persen, dan 27 persen; sovereign wealth funds enam persen, dua persen, dan empat persen; serta di private banks dua persen hanya untuk tenor lima tahun.


(AHL)