BI: Ketahanan Ekonomi RI Kian Baik

Husen Miftahudin    •    Kamis, 04 Oct 2018 20:22 WIB
ekonomi indonesia
BI: Ketahanan Ekonomi RI Kian Baik
Deputi Gubernur BI Perry Wajiyo. Medcom/Eko Nordiansyah.

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut ketahanan ekonomi RI membaik. Reformasi kebijakan di sektor perbankan, moneter, dan kelembagaan pascakrisis 1997-1998 telah memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.

"Reformasi kebijakan menyebabkan kondisi fundamental Indonesia menjadi lebih tahan terhadap guncangan eksternal," ujar Perry di Gedung B Kompleks BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 4 Oktober 2014.

Ketahanan ekonomi RI yang kian membaik termaktub dalam buku 'Realizing Indonesia's Economic Potential'. Bekerja sama dengan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF), bank sentral meluncurkan buku tersebut.

Buku ''Realizing Indonesia's Economic Potential' disusun IMF, memaparkan analisis makroekonomi yang komprehensif dalam beberapa tahun terakhir dan menyingkap kekuatan ekonomi Indonesia.

Selain itu, dijelaskan pula kendala yang dihadapi Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dan rekomendasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, serta isu-isu yang kemungkinan akan dihadapi para pembuat kebijakan nantinya.

Perry bilang, Indonesia punya tiga peluang untuk mengakselerasi perekonomian dalam jangka panjang. Pertama, mengoptimalkan manfaat bonus demografi. Kedua, memanfaatkan perkembangan pesat ekonomi digital di Indonesia.

"Terakhir, memanfaatkan siklus ekonomi dunia, termasuk memanfaatkan transformasi ekonomi struktural Tiongkok dalam rangka meningkatkan ekspor," beber dia.

Namun demikian, menurutnya, Indonesia perlu mengatasi beberapa tantangan struktural dalam pemanfaatan peluang-peluang tersebut. Di antaranya dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, utamanya pendidikan.

"Kemudian menyesuaikan struktur ekspor Indonesia dari komoditas dan sumber daya alam serta produk yang menggunakan teknologi rendah ke sektor-sektor dengan nilai tambah yang tinggi," imbuh Perry.

Melalui buku tersebut, IMF memberikan lima rekomendasi kebijakan untuk perekonomian Indonesia. Pertama, peningkatan rasio pajak secara bertahap dan hati-hati (prudent). Kedua, perlunya membuka sektor ekonomi baru bagi investor swasta, memperbarui peran perusahaan negara dan anak perusahaan.

Kemudian, mengangkat kurva imbal hasil bebas risiko yang dapat dijadikan patokan. Keempat, memperluas basis investor domestik untuk pemerintah daerah, untuk pengembangan dan pembiayaan investasi, serta mengurangi ketergantungan terhadap aliran modal asing.

"Terakhir, modernisasi regulasi keuangan," tutup Perry.

 


(SAW)


Pengalihan Komando BP Batam Disebut Membuat Gaduh

Pengalihan Komando BP Batam Disebut Membuat Gaduh

1 day Ago

Pengalihan komando Pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam kepa…

BERITA LAINNYA