Pemerintah Siapkan Simulasi APBN

   •    Senin, 16 Apr 2018 08:49 WIB
apbnrapbn 2018
Pemerintah Siapkan Simulasi APBN
Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Pemerintah terus memantau kenaikan harga minyak dunia yang saat ini sudah melampaui target ICP (minyak mentah Indonesia) sebesar USD48 per barel dalam postur APBN 2018. Hal itu disampaikan Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Adrianto.

Adrianto menyatakan pascaserangan rudal AS dan sekutunya ke Suriah akan semakin mendorong pergerakan harga minyak dunia yang kini sudah di atas USD67 per barel. Diperkirakan, harga minyak akan mencapai USD80 per barel dalam waktu dekat.

"Meski overall kenaikan harga minyak berdampak positif terhadap APBN, pemerintah juga terus memantau dampaknya terhadap inflasi," ujarnya di Jakarta, Minggu, 15 April 2018.

Target inflasi pemerintah pada 2018 sebesar 3,5 persen. Terkait hal itu, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Nufransa Wira Sakti mengatakan pemerintah akan membuat simulasi dampaknya terhadap postur APBN. "Ini untuk tetap menjaga APBN yang sehat, kredibel, dan sustainable," jelasnya.

Simulasi itu, lanjutnya, menyangkut kebijakan subsidi, perlindungan daya beli masyarakat, menekan angka kemiskinan, juga menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui investasi dan ekspor.

Mengacu pada Nota Keuangan APBN 2018, sensitivitas dari kenaik-an harga minyak setiap USD1 per barel akan meningkatkan pendapatan negara sebesar Rp3,4 triliun-Rp3,9 triliun. Dampaknya, setiap USD1 per barel menaikkan belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah serta dana desa Rp2,4 triliun-Rp3,7 triliun. Dari perhitungan tersebut, surplus yang diterima Rp0,3 triliun-Rp1 triliun.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Y Adhinegara menyarankan pemerintah melakukan sejumlah jurus agar pertumbuhan ekonomi tetap melaju. "Diversifikasi pasar ekspor ke negara lain yang tidak terpengaruh konflik Timur Tengah," ujarnya.

"Perkuat permintaan dalam negeri untuk serap kelebihan produksi ekspor. Ini butuh kepercayaan konsumen, efektivitas penyaluran bansos, dan stimulus bagi sektor industri lokal," tambahnya. (Media Indonesia)

 


(AHL)