Pasar Obligasi Menuju Keseimbangan Baru

   •    Selasa, 15 May 2018 11:05 WIB
obligasi
Pasar Obligasi Menuju Keseimbangan Baru
Sejumlah karyawan memonitor obligasi Surat Utang Negara (SUN). (FOTO: ANTARA/Rosa Panggabean)

Jakarta: Pasar obligasi domestik dinilai mulai memasuki titik ekuilibrium baru. Pemerintah sebagai price taker memandang penawaran yang masuk terhadap surat utang negara (SUN) cenderung meminta tingkat imbal hasil (yield) lebih tinggi.

"Pemerintah, begitu juga Bank Indonesia (BI) siap dengan ekuilibrium atau keseimbangan baru. Kalau memang keseimbangan barunya di level yang lebih tinggi dari sekarang, ya tidak apa-apa," ujar Direktur Surat Utang Negara Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting seusai peluncuran SBR seri 003, Senin, 14 Mei 2018.

Seperti diketahui, kondisi pasar yang tengah bergejolak mendorong pelaku pasar meningkatkan penawaran imbal hasil terhadap SUN. Hal itu tecermin dari hasil lelang lima seri surat berharga negara (SBN) pada Selasa, 8 Mei 2018. Meski penawaran yang masuk mencapai Rp7,18 triliun, pemerintah memutuskan tidak menyerap seluruh penawaran karena tingkat imbal hasil yang ditawarkan peserta lelang di atas kewajaran yang dapat diterima pemerintah. Permintaan imbal hasil mencapai 7,9 persen.

Lebih lanjut, Loto mengungkapkan pemerintah sebenarnya lebih mempertimbangkan jumlah penawaran yang masuk walaupun imbal hasil yang ditawarkan relatif tinggi.

"Pemerintah kan price taker atau penerima harga. Jadi, sebenarnya selama incoming bids-nya kuat, itu kita confidence bahwa level yang bisa diacu masyarakat sekarang sudah bergerak di level tertentu. Cuman kalau bids-nya lemah, nah itu kita harus hati-hati dalam memberikan sinyal," jelas Loto.

Kendati demikian, sambung Loto, bukan berarti pemerintah tidak mencermati penawaran tingkat imbal hasil yang berkembang. Hanya, aspek yield disebutnya berada di ranah secondary market.

Yang pasti, pemerintah telah memiliki rencana cadangan guna memenuhi kebutuhan pembiayaan bila investor meminta yield yang terlalu tinggi.

Penawaran SBR003

Kemarin, pemerintah resmi membuka masa penawaran SBR003 kepada investor individu secara daring (e-SBN).

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan penawaran kupon sebesar 6,80 persen per tahun dengan tenor dua tahun diyakini mampu menarik investor.

Apalagi, akses terhadap instrumen investasi SBR003 kian dimudahkan melalui sistem e-SBN yang dapat menjangkau generasi milenial pada khususnya. Jenis kupon yang ditawarkan bersifat mengambang (floating) dengan tingkat kupon minimal (Salah satu parameter ialah suku bunga acuan Bank Indonesia (BI 7-days reserve repo rate/DRRR). Apabila BI 7 DRRR yang saat ini berada di level 4,25 persen dinaikkan, tingkat kupon otomatis mengalami kenaikan ditambah spread tetap 255 basis poin (bps).

Dalam melakukan penawaran, pemerintah menggandeng sembilan mitra distribusi yang mencakup PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Mandiri (persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, PT Bareksa Portal Investasi, PT Star Mercato Capitale, dan PT Investree Radhika Jaya.

Pemerintah menaruh target Rp1 triliun. Apabila permintaan melesat tajam, target dapat diperbesar hingga Rp5 triliun. Minimum pemesanan Rp1 juta dan maksimum di Rp3 miliar. (Media Indonesia)


(AHL)


Komentar Menperin soal Sariwangi Pailit

Komentar Menperin soal Sariwangi Pailit

10 hours Ago

Bangkutnya PT Sariwangi Agricultural Estates Agency (Sariwangi AEA) dan anak usahanya yaitu PT …

BERITA LAINNYA