Indef Sebut Koordinasi Lemah Picu Rupiah Terus Tertekan

Kautsar Widya Prabowo    •    Selasa, 31 Jul 2018 13:03 WIB
pertumbuhan ekonomikurs rupiahekonomi indonesia
Indef Sebut Koordinasi Lemah Picu Rupiah Terus Tertekan
Ekonom Indef Didik J Rachbini (MI/IMMANUEL ANTONIUS)

Jakarta: Institute For Development of Economics and Finance (Indef) menilai koordinasi antara lembaga dan kementerian yang bertugas menjaga ekonomi fiskal Indonesia terbilang buruk. Hal tersebut bisa dilihat dari nilai tukar rupiah yang masih melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).

Ekonom Indef Didik J Rachbini mengatakan Pemerintah Indonesia memiliki sensitivitas yang tinggi dalam menjaga nilai tukar rupiah usai Indonesia diterpa krisis ekonomi pada 1965. Namun, Didik menilai, di Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) minim yang menjaga nilai tukar rupiah.

"Faktor-faktor melemahnya dan nilai tukar rupiah gagal dikelola. Tim ekonomi kita tidak solid (karena) antara menteri-menteri berkelahi. Artinya ada masalah kepemimpinan ekonomi yang berat saat ini," ujar Didik, dalam sebuah seminar, di Gedung SMESCO, Jakarta, Selasa, 31 Juli 2018.

Jika dilihat masa Soeharto saat menjabat sebagai Presiden, kata Didik, cadangan devisa berada di kisaran USD30 miliar hingga USD35 miliar atau lebih kecil dibandingkan dengan kondisi saat ini yang pada akhir Juni 2018 tercatat sebesar USD119,8 miliar. Meski lebih kecil, lanjut Didik, namun Soeharto terbilang berhasil mengendalikan perekonomian saat itu.

Di sisi lain, masih kata Didik, di era Presiden Joko Widodo (Jokowi), kondisi luar negeri atau ekonomi dunia sedang tidak baik yang akibatnya nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp14.500 per USD. Kondisi ini yang juga membuat kebijakan impor menjadi persoalan.



"Sehingga dengan demikian nilai tukar rupiah kita tidak terjaga sebaiknya. Dibiarkan saja dan tidak terkontrol serta faktor-faktornya tidak dikembangkan dengan baik," tegasnya.

Tidak hanya itu, lanjut Didik, melemahnya nilai tukar rupiah juga tidak terlepas dari adanya normalisasi kebijakan moneter oleh Federal Reserve melalui kenaikan suku bunga acuan. Hal itu yang membuat iklim investasi di Amerika Serikat lebih menjanjikan karena imbal hasil obligasi Amerika Serikat ikut terkerek naik dan mendorong arus dana keluar dari negara berkembang.

Namun, Didik menilai, tekanan ekonomi global dapat ditahan apabila pasar domestik Indonesia kuat. Masalahnya, neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami defisit sejak 2012 sehingga rupiah rentan terdepresiasi. Untuk mengantisipasi pesoalan itu, pemerintah perlu memperbaiki kinerja ekspor dengan menggenjot kapasitas dan kemampuan industri pengolahan.

 


(ABD)