Indonesia Bersama G20 Berkomitmen Memperkuat Resiliensi Ekonomi

Angga Bratadharma    •    Senin, 20 Mar 2017 10:27 WIB
pertumbuhan ekonomiekonomi indonesia
Indonesia Bersama G20 Berkomitmen Memperkuat Resiliensi Ekonomi
Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia bersama negara-negara G20 kembali berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dunia dan memperkuat resiliensi ekonomi di lingkup nasional dan global. Upaya mewujudkan pertumbuhan yang kuat, berimbang, berkesinambungan, dan inklusif itu ditempuh dengan kebijakan moneter, fiskal, dan reformasi struktural.

Hal itu mengemuka dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara G20 pada 17-18 Maret 2017 di Baden-Baden, Jerman. Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo, yang hadir dalam pertemuan itu bersama delegasi Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, menyampaikan apresiasi atas komitmen G20 tersebut.

Di tengah pemulihan ekonomi global yang belum kuat dan berimbang serta guna mewujudkan target pertambahan pertumbuhan kolektif negara G20 sebesar dua persen pada 2018, Indonesia mendukung fokus Presidensi Jerman yang menekankan pentingnya implementasi komitmen negara G20 di dokumen yang dikenal dengan growth strategy.

Terkait penguatan resiliensi, Indonesia mendukung agenda Presidensi Jerman dalam penyusunan panduan resiliensi (note of resiliency) sebagai rujukan yang bersifat tidak mengikat bagi negara G20 guna memperkuat resiliensi ekonomi, di tengah meningkatnya ketidakpastian global terkait dengan arah kebijakan negara maju, risiko geopolitik, dan tren proteksionisme.

Berdasarkan keterangan tertulisnya, yang diterima di Jakarta, Senin 20 Maret 2017, upaya penguatan resiliensi itu juga didukung dengan penguatan Jaring Pengaman Keuangan Global (Global Financial Safety Net atau GFSN), dengan IMF berperan utama, dan adanya kolaborasi antara Jaring Pengaman Keuangan Regional (Regional Financial Arrangement atau RFA) dan IMF.



Dalam hal ini, Indonesia menyambut baik pengembangan instrumen bantuan likuiditas baru IMF serupa fasilitas swap, yang diperuntukkan bagi negara anggota dengan fundamental ekonomi baik. Indonesia berharap agar instrumen baru itu segera tersedia serta agar G20 mendukung IMF dalam finalisasi instrumen baru tersebut.  

Masih sejalan dengan penguatan resiliensi, Indonesia juga mendukung pembahasan G20 tentang manajemen aliran modal (capital flows management atau CFM).  Meski Indonesia telah meliberalisasi aliran modal sejak 35 tahun lalu serta memperoleh manfaatnya bagi pembiayaan perekonomian, disadari keterbukaan aliran modal juga menimbulkan risiko terkait volatilitas aliran modal yang berlebihan.

Untuk memitigasi risiko ini, Indonesia memandang CFM diperlukan sebagai pelengkap kebijakan makroekonomi yang sehat guna melindungi ekonomi dan stabilitas keuangan domestik dari dampak rambatan global yang negatif.  Indonesia menerapkan prinsip dan panduan CFM yang disusun dalam Institutional View dari IMF.

Terkait dengan resiliensi keuangan, G20 berkomitmen menuntaskan implementasi agenda reformasi sektor keuangan secara tepat waktu dan konsisten.

Indonesia mendukung upaya mengatasi kerentanan struktural dari kegiatan pengelolaan aset, shadow banking, over the counter derivatives, central counterparties, permodalan basel 3, dan risiko misconduct. Indonesia juga mendukung kerangka struktural yang akan mengevaluasi dampak dari implementasi reformasi keuangan global untuk perbaikan ke depan.

Dalam pengembangan sektor keuangan, inovasi digital dinilai memberikan manfaat dan kesempatan bagi perkembangan jasa keuangan sekaligus potensi risiko yang perlu dikelola.

Untuk itu, Indonesia bersama G20 terus mendukung dan memantau pengembangan keuangan digital serta menyambut baik rencana identifikasi isu-isu pengaturan dan pengawasan keuangan digital dari perspektif stabilitas keuangan. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia menyampaikan kemajuan Indonesia melalui pembentukan Fintech Office.

Dalam area keuangan inklusif, Indonesia terus mendukung kerja sama Global Partnership for Financial Inclusion (GPFI) dalam meningkatkan akses dan literasi keuangan untuk kelompok rentan dan UMKM.

Sebagai bentuk kemajuan kongkrit Indonesia di area ini, Bank Indonesia menyampaikan bahwa Indonesia telah dapat menyalurkan dana bantuan sosial kepada kelompok rentan (Government to People) secara nontunai menggunakan sistem perbankan melalui Layanan Keuangan Digital (LKD).

Hal ini secara signifikan mampu menjangkau masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan (unbanked) dan mendorong berkembangnya ekosistem non tunai bagi UMKM di Indonesia.   

Selanjutnya, Gubernur Bank Indonesia menyampaikan komitmen Bank Indonesia untuk senantiasa menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung pembahasan di kerjasama internasional untuk memperkuat resiliensi ekonomi dan keuangan guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang kuat, berimbang, berkesinambungan, dan inklusif.

 


(ABD)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

13 hours Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA