Penerimaan Migas Makin Rendah, Pajak Jadi Jantung Fiskal Indonesia

Suci Sedya Utami    •    Sabtu, 26 Nov 2016 16:10 WIB
pajak
Penerimaan Migas Makin Rendah, Pajak Jadi Jantung Fiskal Indonesia
Ilustrasi. (Foto: Antara/Wahyu Putro).

Metrotvnews.com, Bogor: Pemerintah memperkirakan lifting migas di 2019 bakal menurun bahkan hingga pada level di bawah 600 barel per hari (BPH).

Padahal, migas merupakan salah satu sumber penerimaan yang menghasilkan nilai rupiah terbesar di dalam APBN. Ketika sektor ini mengalami penurunan produksi, maka penerimaan negara yang bersumber dari jenis sumber daya ini pun ikut merosot.

Baca: Menkeu: Penerimaan Pajak Jadi Risiko Fiskal Terbesar

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani pun mengakui perhitungan tersebut. Maka, satu-satunya sumber yang akan menentukan fiskal pemerintah di masa mendatang yakni pajak dan juga bea cukai.

"Pajak itu menjadi pendapatan yang sustainable ke depan. Sebenarnya tren ini sudah terjadi beberapa tahun ke belakang," kata Askolani dalam pelatihan media keuangan, di Hotel Aston, Sentul, Jawa Barat, Sabtu (26/11/2016).

Baca: Penerimaan Negara Sektor Hulu Migas Baru USD4,23 Miliar

Dia menyebutkan, puluhan tahun lalu, sharing migas ke pendapatan negara 20-30 persen, sekarang di bawah 20 persen. "Dulu 10 tahun lalu, sumbangan migas Rp400 triliun hingga Rp500 triliun ketika booming komoditas," tutur dia.

Namun saat ini, penerimaan negara sangat tergantung dari pajak apalagi ketika ditambah dengan melemahnya harga minyak dunia. Dirinya menambahkan, pajak merupakan jantung bagi Indonesia untuk menentukan keberlangsungan fiskal ke depan.

 


(AHL)